0713. HUKUM KENAJISAN KENCING BAYI

PERTANYAAN :
Assalamu’alaikum, sarung pakdhe aku, terkena ompol bayi yang belum makan apa-apa selain ASI, lantas buat shalat tanpa dibersihkan, apakah sah ? Syukron. [Bambang Isnadi].
JAWABAN :
Wa’alaikumsalam. Sebelumnya diperciki air untuk kencing bocah laik-laki (yang masih berumur di bawah 2 tahun dan hanya minum ASI) dan di cuci selayaknya najis lainnya untuk kencing bocah wanita sarung tersebut masih najis. Berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw. :
1. Hadits Ummu Qois bintu Mihshon rodhiyallohu anha :
أَنها أَتتْ بِابْنٍ لها صغيرٍ، لمْ يأْكلِ الطّعامَ إِلى رَسولِ اللّهِ -صلى الله عليه وسلم- ، فأَجلسهُ رَسولُ اللّهِ -صلى الله عليه وآله وسلم- فى حجرِهِ ، فَبالَ على ثَوْبهِ ، فدعا بماءٍ فنضحهُ وَلمْ يغسله
Bahwa ia datang dengan anak laki-lakinya yang masih kecil yang belum makan makanan kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Lalu Rosululloh shollallohu alaihi wa aalihi wa sallam mendudukkan anak itu di pangkuannya, kemudian anak itu ngompol di baju beliau. Beliau pun meminta air lalu memercikinya dan tidak mencucinya (HR. al-Bukhori dalam al-Wudhu’ (223), Muslim dalam ath-Thoharoh (691), Abu Dawud dalam ath-Thoharoh (374), at-Tirmidzi dalam ath-Thoharoh (71), an-Nasa’i dalam ath-Thoharoh (304), Ibnu Majah dalam ath-Thoharoh dan Sunannya (566), Malik dalam al-Muwaththo’ (141), Ahmad (27756), al-Humaidi dalam musnadnya (365), al-Baihaqi (4319), dari hadits Ummu Qois bintu Mihshon rodhiyallohu anha.)
2. Hadis riwayat Imam Turmudzi :
يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، ويُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الغُلامِ. رواه الترميذي
“Dicuci dari kencing anak perempuan dan dipercikkan dengan air dari kencing anak laki-laki makanan.” (Riwayat Tirmidzi dengan sanad hasan).
Hikmah dibedakannya perlakuan terhadap dua kencing bocah diatas di terangkan dalam Kitab AlBaajuuri I/107 dan alfiqh islami-Zuhaily I/311 :
والفرق بينهما ان بول الصبي ارق من بول الصبية و الائتلاف بمحله اكثر من الائتلاف بمحلها فخفف فيه دونها وايضا اصل خلقه من ماء وطين واصل خلقها من لحم ودم فان حواء خلقت من ضلع ادم القصير وايضا بلوغ الصبي بمائع طاهر وهو المني فقط وبلوغها بذالك وبمائع نجس وهو الحيض وأما الطفلة الصبية والخنثى فلا بد من غسل موضع بولهما ، بإسالة الماء عليه ، وذلك لما رواه الترمذي وحسنه: «يغسل من بول الجارية ، ويرش من بول الغلام» وفرّق بين بول الصبي والصبية وذلك لأنّ بول الصبي أرقّ من بولها ، فلا يلصق بالمحل لصوق بولها به ، وألحق بها الخنثى. (انظر: الفقه الإسلامي ، زحيلي ، ج1 -311).
Perbedaan kencing bayi laki-laki dan perempuan :
1. Kencing bayi laki-laki lebih lembut ketimbang kencing bayi perempuan dan persatuan dengan tempat yang terkencingi bayi laki-laki lebih banyak ketimbang persatuan dengan tempat yang terkencingi bayi perempuan, menurut kitab alfiqh islami-Zuhaily I/311 “Kencing bayi laki-laki lebih lembut ketimbang kencing bayi perempuan sehingga bertemunya kencing laki-laki tempat yang terkencingi tidak sekuat bayi perempuan” karenanya kencing laki-laki diringankan hukumnya tidak kencing bayi wanita Intinya kencing wanita lebih pesing dan lebih menyengat baunya.
2. Asal kejadian laki-laki dari dari air dan tanah sedang asal kejadian wanita dari daging dan darah (najis) karena Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam AS yang pendek.

3.Tanda baligh (dewasa) nya anak laki-laki ditandai dengan cairan suci yaitu mani sedang tanda balig (dewasa) nya anak perempuan ditandai dengan mani dan cairan najis yaitu darah haid. (Kitab AlBaajuuri I/106-107 dan alfiqh islami-Zuhaily I/311). Wallaahu A’lamu bis shawaab. [Masaji Antoro].

Pos terkait