1114. HIMAH : MUTIARA SYEIKH ABDUL QADIR AL JAILANI

  • Whatsapp
Ia bertutur:
Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, yaitu: (1) harus menjaga
perintah-perintah Allah, (2) harus menghindar dari segala yang haram, (3) harus
ridha dengan takdir Yang Maha Kuasa. Jadi seorang Mukmin, paling tidak,
memiliki tiga hal ini. Berarti, ia harus memutuskan untuk ini, dan berbicara
dengan diri sendiri tentang hal ini serta mengikat organ-organ tubuhnya dengan
ini.
Ia bertutur :
Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid’ah, patuhilah
selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid
dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbatkan
sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu
sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran.
Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah.
Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah
dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya.
Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu
Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya. Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya.
Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang maupun
malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka
kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu
Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di surga dan tinggal di
dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan
hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya
wanita, dengan karunia-karunia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para
shiddiq, para syahid, dan para shaleh di surga yang tinggi.
Ia bertutur:
Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia
mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan
kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia
sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada
Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo’a kepada-Nya dengan
kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan
berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya,
maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.
Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya
dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo’a merendah diri,
memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha
Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo’a dan tak mengabulkannya, hingga ia
sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya
mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi,
segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.
Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha
Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat
haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan
dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan
segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia;
tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah,
tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan
dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan,
kecuali karena ALLAH.
Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan,
dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke
keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya
sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya
dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat
sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau
mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat
ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat
kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha,
bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa
enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya;
makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia
bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan
termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka
segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.
Ia bertutur:
Bila kamu abaikan ciptaan, maka:
“Semoga Allah merahmatimu,” Allah melepaskanmu dari kedirian,
“Semoga Allah merahmatimu,” Ia mematikan kehendakmu; “Semoga
Allah merahmatimu,” maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).
Kini kau terkaruniai kehidupan
abadi; diperkaya dengan kekayaan abadi; dikaruniai kemudahan dan kebahagiaan
nan abadi, dirahmati,dilimpahi ilmu yang tak kenal kejahilan; dilindungi dari
ketakutan; dimuliakan, hingga tak terhina lagi; senantiasa terdekatkan kepada
Allah, senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau
pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau
sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahasiakan.
Maka, kau menjadi pengganti para
Rasul, para Nabi dan para shiddiq. Kaulah puncak wilayat, dan para wali yang
masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan
sawah ladang terpaneni melalui do’amu; dan sirnalah melalui do’amu, segala
petaka yang menimpa orang-orang di desa terpencil pun, para penguasa dan yang
dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dengan demikian
kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan
masyarakat.
Orang-orang bergegas-gegas
mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu, dalam segala
kehidupan, dengan izin sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa sibuk
dengan doa dan syukur bagimu, di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin
berselisih tentangmu. Duhai, yang terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik
segala rahmat.
Ia bertutur:
Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian,
dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari
manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan
jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah,
membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan
mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi
kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang
berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan
semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga
akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.
Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan katak-pernahan
menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun
termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam
dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh,
hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau
atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya.
Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru
namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan
busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah
mendahuluimu.
Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada
dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air,
atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu
menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan
adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu,
padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya
telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru
dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah
bersabda: “Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita dan
shalat – yang pada mereka tersejukkan mataku.” Sungguh, hal-hal dinisbahkan
kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami
isyaratkan. Allah berfirman: “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi
Aku.”
Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila
kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah
menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau
berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka
Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini
Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih
maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan
Tuhan. Inilah makna firman Allah: ” Aku bersama orang-orang yang putus asa
demi Aku, ” Dan makna kata: “Kedirian masih maujud” ialah
kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam
sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: “Hamba-Ku yang
beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat
sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah
mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi
matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan
menjadi kakinya, dengannya ia berjalan.” Tak dir agukan lagi, beginilah
keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke
dalam samudra kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat,
kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana
(penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa
beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak
Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari
badala, yang berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan
kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang
Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka
sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak
bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para
malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari
kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral,
tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari
kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua
keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan
ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.
Ia bertutur:
Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasarahkanlah segala sesuatu kepada
Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa
perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan
segala yang diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu,
setelah keterbuanganmu. Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai
pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan.
Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan
berintim dengannya. Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah.
Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba
kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya.
Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu
kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia
dengan sesuatu pun. Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang
musyrik. Allah berfirman: “Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa)
dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak
menyekutukanNya.”
(QS 18.Al Kahfi: 110)
Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani, dan
menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik.
Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu
selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah, jangan
terlena. Maka dengan menyendiri, akan diperoleh keamanan. Jangan menganggap dan
mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu, berkat kau sendiri. Maka, bila kau
berkedudukan, atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada
orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari,
keagungan Allah mewujud, dan Allah mengantarai hamba-hambaNya dan hati-hati
mereka. Bisa-bisa yang kau percakapkan, sirna darimu, dan yang kau anggap
abadi, berubah, hingga kau termalukan di hadapan yang kau ajak bicara.
Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkakn dengan
orang lain. Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan
dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan. Allah berfirman: “Segala
yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih
baik daripadanya, atau yang sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS 2.Al Baqarah: 106)
Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap
ketetan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal
ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surah-surah yang
diturunkan kepadanya, dan yang dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid,
dan termaktub di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang
dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia
berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam
sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia
berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah. Ia diperintahkan
untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu
berlindung dan berpaling kepada Allah. Karena, dengan begini, ada pengakuan
akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada
seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai
pusaka dari Adam as., ‘bapak’ manusia, dan pilihan Allah.
Berkatalah Adam a.s.: “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami
akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. 7.Al-A’raaf: 23). Maka
turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan
tentang hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu
Allah berpaling kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa
bertaubat.
Dan Allah mengembalikannya ke hal semua, dan beradalah ia pada peringkat
wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat. Maka
menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya, sedang akhirat
sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka, ikutilah
Nabi Muhammad Saw., kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam,
pilihan-Nya – keduanya adalah kekasih Allah – dalam hal mengakui kesalahan dan
berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu‘ dalam segala
keadaan kehidupan.
Peluang Usaha Bisnis Air Isi Ulang

Pos terkait