3668. KAJIAN KITAB AS SYAMAIL KARYA IAMAM TURMUDZI bil ikhtishor (BAG-18)

KITAB AS SYAMAIL KARYA IAMAM TURMUDZI bil ikhtishor
51. WAFATNYA RASULULLOH
عن أنس بن مالك قال: «آخر نظرة نظرتها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم كشف الستارة يوم الإثنين، فنظرت إلى وجهه كأنه ورقة مصحف والناس خلف أبي بكر، فأشار إلى الناس أن اثبتوا، وأبو بكر يؤمهم وألقى السجف، وتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم من آخر ذلك اليوم».
“Terakhir kali aku memandang Rasulullah shollallohu alaihi wasallam. yaitu tatkala tirai kamarnya dibuka pada hari Senin. Aku memandang wajahnya bagaikan kertas mushaf (dalam keelokan dan kebersihannya) . Orang-orang shalat di belakang AbuBakar r.a. Hampir saja terjadi kegoncangan diantara umat, kemudian ia (Abu Bakar r.a.) memerintahkan umat agar tenang. Abu Bakar memimpin mereka, tirai kamar Nabi shollallohu alaihi wasallam dibuka, dan Rasulullah shollallohu alaihi wasallam kedapatan telah wafat pada akhirhari itu.”(Diriwayatkan oleh Abu `Ammar al Husein bin Huraits, dan diriwayatkan pula oleh Qutaibah bin Sa’id dan sebagainya, mereka menerima dari Sufyan bun `Uyainah, dari Zuhri, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
عن سالم بن عبيد، وكانت له صحبة قال: أغمي على رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه فأفاق، فقال: «حضرت الصلاة»؟ فقالوا: نعم. فقال: «مروا بلالا فليؤذن، ومروا أبا بكر أن يصلي للناس»- أو قال: بالناس- قال: ثم أغمي عليه، فأفاق، فقال: «حضرت الصلاة؟» فقالوا: نعم. فقال: «مروا بلالا فليؤذن، ومروا أبا بكر فليصل بالناس»، فقالت عائشة: إن أبي رجل أسيف، إذا قام ذلك المقام بكى فلا يستطيع، فلو أمرت غيره قال: ثم أغمي عليه فأفاق فقال: «مروا بلالا فليؤذن، ومروا أبا بكر فليصل بالناس، فإنكن صواحب أو صواحبات يوسف»
“Tatkala Rasulullah shollallohu alaihi wasallam sakit, beliau (Rasulullah) sempat pingsan, kemudian sadar kembali. Beliau bersabda: “Apakah waktu shalat telah tiba?” Para sahabat menjawab: “Ya”. Kemudian beliau bersabda: “Perintahkan Bilal agarmengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar shalat (menjadi imam) bagi umat (atau beliau berkata, perawi ragu) bersama umat.” Selanjutnya Salim berkata: “Kemudian beliau pingsan kembali, kemudian sadar kembali,seraya bersabda: “Apakah waktu shalat tiba telah tiba ?” Para sahabat menjawab: “Ya”. Kemudian beliau bersabda: “Perintahkan agar Bilal mengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar melaksanakanshalat bersama umat.” `Aisyah berkata (usul) kepada Rasulullah shollallohu alaihi wasallam : “Sesungguhnya ayahku amat perasa. Bila ia berdiri di tempat itu (tempat Rasulullah mengimami), ia akan menangis, dan ia takkan mampu berdiri.Bagaimana sekiranya Anda perintahkan saja orang lain!” Salim bercerita lagi: “Kemudian beliau pingsan lagi, kemudian sadar kembali, seraya bersabda: “Perintahkan agar Bilal mengumandangkan adzan dan perintahkan agar AbuBakar melaksanakan shalat dengan umat (menjadi imam).Sesungguhnya kalian (wahai kaum wanita) bagaikan wanita pada masa Nabi Yusuf**
قال: فأمر بلال فأذن، وأمر أبو بكر فصلى بالناس، ثم إن رسول الله صلى الله عليه وسلم وجد خفة، فقال: «انظروا لي من أتكئ عليه»، فجاءت بريرة ورجل آخر، فاتكأ عليهما فلما رآه أبو بكر ذهب لينكص فأومأ إليه أن يثبت مكانه، حتى قضى أبو بكر صلاته، ثم إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قبض، فقال عمر: والله لا أسمع أحدا يذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قبض إلا ضربته بسيفي هذا قال: وكان الناس أميين لم يكن فيهم نبي قبله، فأمسك الناس، فقالوا: يا سالم، انطلق إلى صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم فادعه، فأتيت أبا بكر وهو في المسجد فأتيته أبكي دهشا، فلما رآني قال: أقبض رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: إن عمر يقول: لا أسمع أحدا يذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قبض إلا ضربته بسيفي هذا،
” Kemudian Salim melanjutkan ceritanya: “Maka Bilal diperintahkan, ia pun mengumandangkan adzan dan Abu Bakar diperintah, ia pun shalat bersama umat (menjadi imam). Kemudian Rasulullah shollallohu alaihi wasallam agak berkurang rasa sakitnya, maka beliau bersabda: “Carikan untukku orang yang bersedia aku telekani!” Maka datanglah Burairah* dan seorang laki-laki lainnya, kemudian Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bertelekan pada keduanya. Manakala Abu Bakar melihatnya, ia punmengundurkan diri (dari kedudukan menjadi imam), namun Rasulullah shollallohu alaihi wasallam . mengisyaratkan agar ia tetap di tempat, akhirnya Abu Bakarpun selesai mengerjakan shalat (mengimami). * Kemudian Rasulullah shollallohu alaihi wasallam wafat, maka `Umar bin Khattab r.a. berkata: “Demi Allah, tiada seorangpun yang kudengar menyebutkan Rasulullah saw. wafat, melainkan akan kupancung (kepalanya) dengan pedangku ini!” Salim menceritakan lagi: “Umat pada waktu itu tidak mengetahui. (Hal itu dapat di mengerti) sebab sebelumnya tidak ada pada seorang Nabi. Maka sewaktu `Umar berbuat demikian umat hanya berdiam diri. Kemudian mereka berkata: “Wahai Salim! Berangkatlah engkau menemui sahabat Rasulullah shollallohu alaihi wasallam (Abu Bakar) dan panggillah kemari!” Kutemui Abu Bakar sewaktu ia berada di dalam masjid. Kudekati dia sambil menangis karena kebingungan. Manakala ia melihat daku, iapun bertanya: “Apakah Rasulullah telah wafat?”. Aku menjawab: sungguh umar berkata: “tak seorangpun yang kudengar menyebut rasulullah shollallohu alaihi wasallam wafat, melainkan ia akan aku pancungdengan pedangku ini!”
فقال لي: انطلق، فانطلقت معه، فجاء هو والناس قد دخلوا على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا أيها الناس، أفرجوا لي، فأفرجوا له فجاء حتى أكب عليه ومسه، فقال: {إنك ميت وإنهم ميتون} ثم قالوا: يا صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أقبض رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: نعم، فعلموا أن قد صدق، قالوا: يا صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أيصلى على رسول الله؟ قال: نعم، قالوا: وكيف؟ قال: يدخل قوم فيكبرون ويصلون ويدعون، ثم يخرجون، ثم يدخل قوم فيكبرون ويصلون ويدعون، ثم يخرجون، حتى يدخل الناس، قالوا: يا صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أيدفن رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: نعم، قالوا: أين؟ قال: في المكان الذي قبض الله فيه روحه، فإن الله لم يقبض روحه إلا في مكان طيب. فعلموا أن قد صدق، ثم أمرهم أن يغسله بنو أبيه واجتمع المهاجرون يتشاورون، فقالوا: انطلق بنا إلى إخواننا من الأنصار ندخلهم معنا في هذا الأمر،
” Abu Bakar berkata kepadaku: “Sudah, berangkatlah! ” Maka berangkatlah aku bersamanya. Setibanya, orang-orang telah masuk ke rumah Rasulullah shollallohu alaihi wasallam , untuk itu ia berkata: “Wahai umat Muhammad! Berilahaku jalan!”Kemudian mereka memberi jalan untuk Abu Bakar. Ia menghampiri jenazah Rasulullah shollallohu alaihi wasallam . ia bersimpuh dan menyentuhnya, seraya membaca al- Qur’an (Q.S 39 az Zumar: 30), yang artinya: “Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.” Para sahabat bertanya: “Wahai sahabat Rasulullah ! (ditujukan kepada Abu Bakar) Apakah Rasulullah . telah wafat ?”. Ia (Abu Bakar) menjawab: “Ya”. Tahukah mereka bahwa benar apa yang terjadi. Mereka berkata: “Wahai sahabat Rasulullah, apakah dilakukan shalat jenazah juga bagi Rasulullah saw. ?” Ia menjawab: “Ya”. Mereka bertanya lagi: “Bagaimanakah caranya?”. Ia menjawab: “Serombongan masuk, kemudian bertakbir, membaca shalawat dan berdo’a, kemudian keluar. Setelah itu masuklah serombongan berikutnya, lalu bertakbir, membaca shalawat dan berdo’a, kemudian keluar sampai semua orang kebagian.”Mereka bertanya lagi: “Wahai sahabat Rasulullah ! Apakah Rasulullah juga dikebumikan? “. Ia menjawab: “Ya”. Mereka bertanya: “Di mana?”. Ia menjawab: “Di tempat beliau wafat, di mana Allah mencabut ruhnya pada tempat itu, karena Allah tidak mencabut ruhnya melainkan pada tempat yang baik.” Yakinlah mereka bahwa apa yang dikatakan Abu Bakar itu benar. Kemudian ia memerintahkan mereka agar yang memandikan beliau adalah sepupu beliau dari garis keturunan ayah beliau. Orang-orang Muhajirin bermusyawarah (tentang khalifah sesudahnya) maka berkatalah mereka: “Temuilah teman-teman kita dari kelompok Anshar, kita ikut sertakan mereka bersama kita pada perumusan perkara ini (Khalifah)!”
فقالت الأنصار: منا أمير ومنكم أمير، فقال عمر بن الخطاب: من له مثل هذه الثلاث {ثاني اثنين إذ هما في الغار إذ يقول لصاحبه لا تحزن إن الله معنا} من هما؟ قال: ثم بسط يده فبايعه وبايعه الناس بيعة حسنة جميلة.
Golongan Anshar berkata: “Dari golongan kami seorang wakil dan dari kalian juga” `Umar bin Khattab berkata: “Siapakah gerangan yang dapat menandingi orang yang memiliki tiga keutamaan? Ia adalah salah seorang dari dua orang di kala keduanya (Abu Bakar dan Nabi shollallohu alaihi wasallam ) berada di dalam gua. Di kala itu Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah bersama kita.” (Q.S. at Taubah:40). Siapakah gerangan orang yang berdua itu? Salim melanjutkan ceritanya: Kemudian ia (`Umar) mengulurkan tangannya, maka mereka para sahabat berbai’at kepadanya (Abu Bakar) dan seluruh umat punikut memberikan bai’at kepadanya dengan bai’at yang tulus ikhlas.”
(Diriwayatkan oleh Nashr bin `Ali al Jahdlami, dari `Abdullah bin Daud, dari Salamah bin Nubaith, dari Nu’aim bin Abi hind, dari Nubaith bin Syarith, yang bersumber dari Salim bin `Ubaid r.a.)
LINK ASAL :

Pos terkait