818. KAJIAN AL- HIKAM BAG. 05

Mbah Jenggot
Kajian Kitab Al-hikam (Bagian 5)
اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلىَ اِنْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ.

Bacaan Lainnya
Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti dari rabunnya mata batinmu.
Terkadang dunia begitu melenakan kita, padahal hidup di alam ini fana belaka. Dan Allah sudah mengatur detil kebutuhan kita, bukan ketamakan keinginan kita. Sehingga dengan penuh semangat dan antusias kita imbangi permainan dunia ini. Ibarat main game-lah, betapa asyiknya kita tanpa peduli waktu dan kesempatan. Kita merasa kemuliaan kita di dunia ini variabel dengan kemuliaan kita di akhirat.
Sementara akhirat adalah kehidupan yang abadi. Percaya atau tidak, kitab Allah yang berbicara seperti itu, boleh percaya boleh tidak, hanya iman didada yang mampu menjawabnya. Dan sejujurnya betapa persiapan untuk kehidupan abadi itu sering kita lalaikan. Kita terlalu silau oleh kemuliaan kehidupan didunia ini.
Pernahkah kita menyadari bahwa kehidupan dunia dan isinya Allah telah jaminkan atas hidup kita?, sementara Allah ‘hanya’ menuntut kita untuk mempersiapkan kehidupan akhirat kita. Namun dalam perjalannya permainan dunia demikian kuat pusarannya sehingga kita terlalu sering melupakan tujuan kita sesungguhnya. Terlalu ngotot dengan apa yang kita lihat dan kita raba di dunia ini. Sehingga kita lupa dengan sumpah kita saat di Lauhul Mahfudz, dalam Surat Al A’raf 172-173
“dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“,.
Bila kita telah bersaksi dihadapanNya sedemikian rupa dan dalam prosesnya di dunia kita seolah lupa maka, sepantasnya bila Syekh Ath Thailah mengolok bahwa mata batin kita telah rabun.
Kesungguhan seseorang dalam mencari karunia Allah SWT, termasuk juga mencari rizki harusnya selalu berkeyaqinan dengan firman Allah:
”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rizkinya.” (Hûd: 6)
Allah meminta pertanggungjawaban kepada manusia, dengan menjadikan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba berfungsi untuk ibadah; hendaknya diberlakukan sebagai ibadah dan untuk kepentingan yang berfaedah bagi syiar agama Allah, seperti firman-Nya,
”Wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu.” (Al-Baqarah: 21)
Ayat ini merupakan dalil dan bukti yang membimbing hati manusia untuk mengetahui hal-hal yang rahasia dan hal-hal yang tampak jelas.
Penulis menjelaskan bahwa terkadang orang yang mencari rizki sedikit mengurangi amal ibadahnya, namun apabila ia mencari rizki dan tidak mengurangi ibadahnya kepada Allah, maka ia sebagaimana hadits Nabi, ”Barangsiapa yang tertidur karena capek mencari rizki halal, maka dia tertidur dalam keadaan diampuni dosanya oleh Allah.”
Ya Allah mohon ampun Rabb, atas rabunnya mata jiwa ini, semoga Engkau menakdirkan kami menjadi golongan orang-orang yang engkau beri Nikmat dunia wal akhirat. Allahumma amin.

Pos terkait