999. Tidak Faham Saja Sudah Hebat Apalagi Kalau Faham.

PASTI AKAN ADA PERUBAHAN
Seorang kakek tua yang hidup dengan cucunya di perkebunan kecil yang indah, memiliki kebiasaan bangun setiap pagi, lalu duduk di kursi yang ada didapur kemudian membaca al-Qur’an. Cucunya yang masih kecil, bercita-cita ingin menjadi seperti kakeknya. Oleh karena itu sang cucu selalu mencoba untuk menirukan apa yang dilakukan oleh sang kakek selagi bisa. Suatu hari sang cucu bertanya kepada kakeknya;
“Aku selalu mencoba menirukan kakek untuk membaca al-Qur’an, tetapi banyak kata-kata dalam al-Qur’an yang tidak aku mengerti, kalaupun aku mengerti maka cepat sekali aku lupa, kalau begini terus…apa dong kek gunanya aku membaca al-Qur’an jika aku tak faham isinya”….(kata sang cucu sambil cemberut).
Sang kakek tersenyum lembut, kemudian tanpa berbicara sepatah kata pun sang kakek mengambil keranjang arang yang berada disampingnya dan memasukkan arang yang ada dalam keranjang tersebut seluruhnya kedalam tungku pemanas dan berkata;
“Bawa keranjang arang yang sudah kosong ini kesungai lalu isilah dengan air kemudian bawa kembali kesini”.
Sang cucu kemudian melaksanakan perintah sang kakek, tetapi semua air yang dibawanya dengan keranjang bocor semua sebelum sampai kerumah, sesampai dirumah sang kakek melihat cucunya sambil tertawa dan berkata;
“Kamu harus berjalan lebih cepat”.
Kemudian sang kakek menyuruh kembali cucunya kesungai dengan keranjang tersebut untuk mencoba lagi.
Kali ini sang cucu berlari lebih cepat, tapi sekali lagi keranjang yang diisinya dengan air kosong sebelum sampai ke tempat kakeknya. Dengan nafas terengah-engah, nampak kebingunan diwajahnya, kemudian sang cucu berkata pada sang kakek;
“Tidak mungkin aku bisa mengambil air dengan keranjang ini…..aku akan mengambil ember sebagai ganti keranjang”.
Namun sang kakek menjawab dengan tegas;
“Yang aku inginkan bukan Seember air, tetapi sekeranjang air….kamu hanya kurang keras dalam berusaha”.
Kemudian sang kakek keluar guna menyaksikan cucunya yang mencoba lagi mengambil air dengan keranjang.
Sementara itu, sang cucu sangat yakin bahwa tidak mungkin bisa mengambil air dengan keranjang meskipun dia belari secepat apapun, air tetap akan bocor sebelum sampai kerumah. Tetapi karena ingin menunjukkan kesungguhannya, sang cucu tetap melaksanakan perintah sang kakek.
Sesampainya disungai sang cucu kemudian melemparkan keranjang yang dibawanya ke sungai kemudian menariknya dan berlari secepat mungkin menuju rumah, tetapi setelah sampai dirumah dan melihat keranjang yang diisinya dengan air telah kosong untuk kali ketiga, sambil terngah-engah dia berkata pada kakeknya;
“Lihat Kek…tidak ada gunanya kan??”
Kemudian sang kakek berkata dengan serius;
“Jadi kamu pikir semua ini tak ada gunanya??!…..Lihatlah sekarang keranjang yang kamu bawa!!”.
Kemudian sang cucu melihat kedalam keranjang yang dibawanya, dan untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa keranjang tersebut sekarang berbeda, berubah….yang sebelumnya keranjang tersebut kelihatan tua, kotor dan hitam karena arang….kini telah bersih luar dalam dan tampak baru.
Kemudian sang kakek berkata setelah memberikan kesempatan sebentar kepada sang cucu untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah;
“Inilah yang akan terjadi jika kamu membaca al-Qur’an…mungkin saat ini kamu belum faham dengan apa yang kamu baca, atau kamu faham tetapi sebentar kemudian setelah kamu menutup al-Qur’an,kamu tidak bisa mengingat apapun tentang apa yang telah kamu baca”.
Sang kakek melanjutkan;
“Tetapi ketika kamu membaca lagi dan lagi, akan tampak perubahan pada dirimu, baik yang tampak oleh mata ataupun tidak, tanpa kamu sadari…oleh karena itu wahai cucuku, tetaplah kamu membaca al-Qur’an dan jangan pernah kamu tinggalkan Kalamulloh selamanya”.
اللهم صل وسلم على حبيبنا و قرة أعيننا سيدنا محمد و على أله وأصحابه أجمعين
NB: Cerita ini adalah kiriman dari seorang teman yang bernama Ustadz Abu Zain al-Banjari dalam teks Arab yang berjudul “Saufa Tataghoyyar” kemudian diterjemahkan secara bebas oleh Turob el-Aqdam As’ad, semoga bermanfaat.

Pos terkait