Cara Nabi Khidir Mendidik Kewalian Habib Ahmad Tempel

Cara Nabi Khidir Mendidik Kewalian Habib Ahmad Tempel

Cara Nabi Khidir Mendidik Kewalian Habib Ahmad Tempel

Ijazah wirid dari Habib Ahmad Bin Ali Bafaqih Tempel, Jogyakarta

Bacaan Lainnya

“Jika kita ada hajat khusus hendaklah membaca Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala aali sayyidina muhammad,” sebanyak 124.000 kali bisa dicicil maksimal dalam jangka 40 hari.

Habib Ahmad Bafaqih adalah seorang wali Allah dikarenakan kesucian hatinya, kesabaran akhlaknya, telah dianugerahi oleh Allah SWT berupa Futuhal ‘Arifiin, kasyaf dan ilmu ladunni, padahal beliau diriwayatkan tidak menempuh pendidikan formal.

Habib Ahmad Bafaqih pernah menuturkan kepada abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil tentang asal mula kewaliannya ketika Abuya berkunjung ke rumah beliau .

“Siapakah guru anda ?”, tanya Abuya kepada beliau .

“Guruku Allah SWT , malaikat Jibril , Rasulullah SAW , jawab beliau , yang menandakan bahwa ia adalah seorang majdzub yang mendapat kewalian tanpa bersuluk.

“Bagaimana asal muasalnya Habib “bisa sampai” kepada Allah “? Tanya Abuya selanjutnya.

“Karena kamu yang bertanya maka saya akan menjawabnya, kalau bukan kamu, saya tidak akan cerita.”

“Dulunya saya orang miskin. Ayah saya wafat dengan meninggalkan saudari -saudari perempuan saya yang banyak. Saya ini orang cacat yang tidak bisa bekerja.”

“Pada suatu hari saudari-saudari saya merasa kelaparan Di rumah saya tidak ada makanan sama sekali. Mereka meminta kepada saya untuk mencarikan makanan. Saya berpikir dari mana saya berusaha dapat makanan ?, mau usaha apa? Wong jalan saja saya harus tertatih-tatih sambil berpegangan di tembok. Badan saya cacat .”

“Terpaksa saya keluar rumah mencari makanan. Tidak ada orang yang kasihan kepada saya. Jangankan memberi sesuatu, menjawab salam saya saja mereka enggan karena melihat diri saya yang seperti ini. Saya terus berjalan dan berjalan sampai capek.”

“Saya istirahat duduk -duduk di Masjid Agung Jogjakarta sampai malam. Karena waktu sudah malam, penjaga masjid itu menyuruh saya keluar dari masjid. Kalau tidak , ia akan mengunci saya dari luar. Saya tidak mau keluar. Akhirnya saya dikunci di dalam masjid sendirian.”

“Saya menangis dan menangis di dalam masjid. Saya sudah putus asa dari manusia . Di tengah larut malam, saya bermunajat kepada Allah:

“TIDAK ADA MANUSIA YANG MAU KEPADAKU , SIAPA LAGI YANG MAU MEMUNGUT DIRIKU SELAIN ENGKAU, YAA ALLAH . AKU MENGELUH KEPADAMU, AKU BERPASRAH DIRI PADAMU .” doaku kepada Allah.

“Di tengah saya bermunajat, saya mendengar suara salam .

“Assalamu ‘alaikum ”

“Wa ‘alaikumussalaam”. Jawabku

“Anda siapa ? ” tanyaku kepada seseorang yang tiba-tiba muncul dihadapanku.

“Aku kakekmu Muhammad Rasulullah SAW “, jawab orang itu .

Baginda Rasulullah saw berkata kepadaku : “INNAA FATAHNAA LAKA FATHAN MUBIINAA ” nanti akan datang orang yang mengajar kamu .”

“Tidak lama kemudian muncul Nabi Khidhir memberi kabar bahwa mulai besok rezekiku akan datang ke rumah dan orang-orang akan datang ke rumahku .”

“Di pagi harinya saya pulang ke rumah dan saudari-saudariku masih kelaparan. Tak lama kemudian datanglah orang membawa makanan ke rumah.

Sedangkan Nabi Khidhir telah mengajari saya menulis azimat di sebuah kertas.”

“Semenjak saat itu rumah Habib Ahmad Bafaqih tidak pernah sepi dari tamu. Masyarakat umum, para pejabat sampai Wali seperti Sayyid Muhammad Maliki turut berkunjung kesana. Namun kewalian dan kekeramatan itu beliau dapatkan setelah mengalami bermacam penderitaan.

Diantara kata Habib Ahmad Bafaqih, “Bahwa aku hanya mencari teman, (yakni) orang yang bersyukur. Dan tidak mau berteman dengan orang yang pusang (gelisah/kecewa dalam hal duniawi), karena orang pusang itu bukan hamba Allah tapi hamba iblis.”

Kini dakwah Habib Ahmad Bafaqih Tempel diteruskan diantaranya oleh putra beliau, Habib Umar bin Ahmad Bafaqih (Sokaraja), Habib Ali bin Ahmad Bafaqih (Jogjakarta), kemudian oleh habib Muhammad Hamid Bafaqih (menantu dan juru kunci makam), Habib Husein bin Abdullah Assegaf (Sedayu, Jogja) dan Habib Zein Magelang. Sedangkan di Kalsel, murid beliau yang terkenal adalah Guru Haji Asmuni (Guru Danau)

Habib Ahmad Tempel sebenarnya wafat pada bulan Sya’ban. Sedangkan haul Ahad terakhir bulan Syawwal adalah haul ayahandanya, yakni Habib Ali bin Ahmad Bafaqih. Karena haul Ahad terakhir bulan Syawwal sudah berlangsung sejak jaman Habib Ahmad Tempel hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh, Yogjakarta. Allahu’alam.

Demikian Cara Nabi Khidir Mendidik Kewalian Habib Ahmad Tempel. Semoga bermanfaat.

Pos terkait