Hukum Memberi Tanda Identitas atau Pathok pada Makam

Hukum Memberi Tanda Identitas atau Pathok pada Makam

Pertanyaan: Bagaimana Hukumnya Memberi Tanda Identitas atau Pathok pada Makam?

Assalamu’alaikum, di dalam kitab safinatun najah disebutkan bahwa kuburan tidak boleh disemen, terus untuk tanda identitas kuburan itu menggunakan apa ya? [Agus Badrin].

Jawaban: Hukum Memberi Tanda Identitas atau Pathok pada Makam!

Bacaan Lainnya

Wa’alaikumsalam. Sunnahnya, kuburan dikasih tanda bisa berupa batu, kayu atau selain keduanya agar bisa dikenali jadi bisa diziarahi. Tanda tersebut diletakkan di bagian kepala jadi cuma satu tanda, tapi menurut pemilik kitab al Hawi anjurannya dikasih dua tanda yaitu di bagian kepala dan di bagian kaki. Adapun dikasih tulisan nama si mayit ataupun selainnya maka hukumnya makruh menurut syafi’iyah tanpa adanya khilaf, sedangkan menurut imam Hanafi tidak makruh.

Hukum makruh mengijing kuburan itu kalau tidak ada nya hajad dan di tanah milik sendiri, kalau ada hajat seperti takut cepet ambruk karena kelembaban tanah maka tidak makruh dengan catatan harus tanah milik sendiri (bukan pemakaman umun). Keharaman atau kemakruhan tersebut bukan murni karena penyempitan, tetapi karena ada dalil hadis yang melarang nya, yakni :

ما رواه مسلم، قال: نهى رسول الله (ص) أن يجصص القبر وأن يبنى عليه.زاد وأن يقعد عليه الترمذي: وأن يكتب عليه، وأن يوطأ عليه.وقال: حديث حسن صحيح

Dalam kitab Nihayatuz Zain dijelaskan bahwa menyemen (menembok atau membangun) kuburan dan menulis Nama fulan bin fulan di atas kuburan ( batu nisan ) hukumnya sama-sama makruh, namun Menulis Nama fulan bin fulan adakala hukumnya tidak makruh bila tujuannya untuk memberi tahu ( mempermudah ) kepada para peziarah bahwa yang dikubur di kuburan tersebut si fulan bin fulan tapi dengan syarat sesimpel mungkin ( jangan berlebihan ), cukup tulisan ” Nama Fulan Bin Fulan ” saja. Wallohu a’lam. [Dul, Nur Hamzah, Mbah Kaung Kaung].

Ibarot :

وكره بناء له ) أي للقبر ( أو عليه ) لصحة النهي عنه بلا حاجة كخوف نبش أو حفر سبع أو هدم سيلومحل كراهة البناء إذا كان بملكه

– Kitab al majmu’ (5/266) :

ويستحب أن يجعل عند رأسه علامة من حجر أو غيره ، لأن { النبي صلى الله عليه وسلم دفن عثمان بن مظعون ووضع عند رأسه حجرا } ولأنه يعرف به فيزار

( الخامسة )

السنة أن يجعل عند رأسه علامة شاخصة من حجر أو خشبة أو غيرهما هكذا قاله الشافعي والمصنف وسائر الأصحاب إلا صاحب الحاوي فقال يستحب علامتان ( إحداهما ) عند رأسه ( والأخرى ) عند رجليه قال : لأن { النبي صلى الله عليه وسلم جعل حجرين كذلك على قبر عثمان بن مظعون } كذا قال ، والمعروف في روايات حديث عثمان حجر واحد والله أعلم .

( السادسة )

قال الشافعي والأصحاب : يكره أن يجصص القبر ، وأن يكتب عليه اسم صاحبه أو غير ذلك ، وأن يبنى عليه ، وهذا لا خلاف فيه عندنا ، وبه قال مالك وأحمد وداود وجماهير العلماء ، وقال أبو حنيفة : لا يكره

– Nihayatuz Zain :

وكره بناء له اى القبر او عليه او تجصيصه او تبييضه بالنورة ولا بأس بتطيينه وتكره الكتابة عليه سواء كتب اسم صاحبه او غيره ، نعم ان كتب صاحبه ونسبه بقصد ان يعرف فيزار فلا كراهة بشرط الاقتصار على قدر الحاجة نهاية الزين 155

 

Sumber asal baca disini.
Silahkan baca juga artikel terkait.

Pos terkait