Istilah Al Maqom Dan Al Haal Dalam Ilmu Tasawuf

Istilah Al Maqom Dan Al Haal Dalam Ilmu Tasawuf

Pertanyaan: Adakah Penjelasan Istilah Al Maqom Dan Al Haal Dalam Ilmu Tasawuf?

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Dalam Fan Tasawuf, Ada istilah Ahwal dan Maqomat. Apa arti dari kedua ishthilah tersebut? Terimakasih.

Bacaan Lainnya

[Abu Ata]

Jawaban atas pertanyaan Istilah Al Maqom Dan Al Haal Dalam Ilmu Tasawuf

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Saya kutipkan dalam kitab Risalatul Qusyairiyyah Hal 56-57:

المقام ما يتحقق به العبد بمنازلته من الآداب مما يتوصل إليه بنوع تصرف ، ويتحقق به بضرب تطلب ومقاساة تكلف ، فمقام كل واحد موضع إقامته عند ذلك ، وما هو منشغل بالرياضة له ، وشرطه ألا يرتقي من مقام إلى مقام آخر ما لم يستوف أحكام ذلك المقام ، فإن من لا قناعة له لا يصح له التوكل ، ومن لا توكل له لا يصح له التسليم ، وكذلك من لا توبة له لا تصح له الإنابة ، ومن لا ورع له لا يصح له الزهد ، والمقام هو: الإقامة ، كالمدخل بمعنى الإدخال والمخرج بمعنى الإخراج ، ولا يصح لأحد منازلة مقام إلا بشهود إقامة الله تعالى إياه بذلك المقام، ليصح بناء أمره على قاعدة صحيحةالحال بأنه المعنى الذي يرد على القلب من غير تعمد ولا اجتلاب ولا اكتساب والأحوال مواهب، والمقامات مكاسب ، والأحوال تأتي من غير الوجود ، والمقامات تحصل ببذل المجهود ، وصاحب المقام ممكن في مقامه ، وصاحب الحال مترق عن حاله .وتأتي الأحوال كالبروق فلا تدوم أبداً ، فإذا دامت فهي من أحاديث النفس

Uraian Ringkas

Al-Maqomat

Secara harfiyah, Maqomat merupakan jamak dari kata maqom yang berarti tempat berpijak atau pangkat mulia. Sedangkan dalam ilmu Tasawuf, Maqomat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui Riyadhoh , Ibadah, maupun Mujahadah.

Disamping itu, Maqomat berarti jalan panjang atau fase-fase yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Maqom dilalui seorang hamba (saalik ) melalui usaaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan sejumlah kewajiban yang harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Seorang hamba (saalik) tidak akan mencapai Maqom berikutnya sebelum menyempurnakan Maqom sebelumnya.

Al-Ahwaal

Ahwal adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya. Ibn Arabi menyebut hal sebagai setiap sifat yang dimiliki seorang salik pada suatu waktu dan tidak pada waktu yang lain, seperti kemabukan dan fana’. Eksistensinya bergantung pada sebuah kondisi. Ia akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada. Hal tidak dapat dilihat dilihat tetapi dapat dipahami dan dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan karenanya sulit dilukiskan dengan ungkapan kata.

Telah disebutkan diatas bahwa penjelasan mengenai perbedaan maqamat dan hal membingungkan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeda tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut: Maqamat adalah perjalanan spiritual yang diperjuangkan oleh para sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan kendala untuk menuju Tuhan.

Di dalam kenyataannya para Salik memang untuk berpindah dari satu maqom ke maqom lain memerlukan waktu berbilang tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa Hal adalah anugerah dan maqam adalah perolehan (kasb). Tidak ada maqom yang tidak dimasuki hal dan tidak ada hal yang terpisah dari maqam.

Beberapa ulama mengatakan bahwa hal adalah sesuatu yang tidak diam  dan tidak mengikat (dinamis). Al-Gazali dalam memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan tetap dalam suatu maqam, ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu dan itulah hal. Mengenai hal ini ia juga memberi contoh tentang warna kuning yang dapat dibagi menjadi dua bagian, ada warna kuning yang tetap seperti warna kuning pada emas dan warna kuning yang dapat berubah seperti pada sakit kuning.

Seperti itulah kondisi atau hal seseorang. Kondisi atau sifat yang tetap dinamakan maqam sedangkan yang sifatnya berubah dinamakan hal. Menurut Syihabuddin Suhrawardi seseorang tidak mungkin naik ke maqam yang lebih tinggi sebelum memperbaiki maqam sebelumnya. Namun, sebelum beranjak naik, dari maqam yang lebih tinggi turunlah hal yang dengan itu maqamnya menjadi kenyataan. Oleh karena itu, kenaikan seorang salik dari satu maqam ke maqam berikutnya disebabkan oleh kekuasaan Allah dan anugerah-Nya, bukan disebabkan oleh usahanya sendiri.

Sebagaimana halnya dengan maqam, hal juga terdiri dari beberapa macam. Namun, konsep pembagian atau formulasi serta jumlah hal berbeda-beda dikalangan ahli sufi. Diantara macam-macam hal yaitu; muraqabah, khauf, raja’, syauq, Mahabbah, tuma’ninah, musyahadah, yaqin.

Wallohu a’lam. Semoga bermanfaat.

[Santrialit]

Sumber Baca Disini
Silahkan baca juga artikel terkait.

Pos terkait