Kisah Uang Mengeluarkan Darah, Karomah Abah Guru Sekumpul

  • Whatsapp
Kisah Uang Mengeluarkan Darah, Karomah Abah Guru Sekumpul

Kisah Uang Mengeluarkan Darah, Karomah Abah Guru Sekumpul.

Ada khadam Abah Guru Sekumpul waktu itu pernah melihat Abah Guru sedang memilah uang, yang mana uang-uang tadi dipisahkan oleh beliau menjadi dua bagian. Satu bagian disimpan, dan satu bagian lagi dibakar.

Bacaan Lainnya

Maka terkejutlah khadam yang melihat tadi dan bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa uang itu dibakar? Sungguh sayang sekali.”

Kemudian khadam itu pun mendekat dan bertanya kepada Abah Guru, “Bah, mengapa uangnya dibakar? Kan sayang.”

Abah Guru menjawab dengan tersenyum, “Kamu ingin tau kenapa?”. Maka dijawab, “Iya abah”.

Kemudian Abah Guru mengambil sisa-sisa uang yang masih belum dibakar, dan di saat itulah uang tadi diperah dengan tangan beliau sendiri, maka keluarlah darah dari uang tersebut yang membuat khadam tadi terkejut.

Abah Guru pun tersenyum dan berkata, “Nah, sekarang kamu sudah tau mengapa aku membakar uang ini, karena uang ini adalah uang haram dan bercampur dengan syubhat.”

Masya Allah, itulah sebagian kecil dari karomah Abah Guru, karena setiap makanan, minuman, uang, dan lain-lain dari semua itu ada yang berkata dengan Abah Guru,

“Jangan makan aku, jangan minum aku, karena aku mengandung yang haram”.

Semua itu karena Allah cinta & sayang kepada hamba-hamba sholeh-Nya, maka Allah pelihara seluruh anggota tubuhnya agar terhindar dari maksiat

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad.

____________________

Semoga artikel Kisah Uang Mengeluarkan Darah, Karomah Abah Guru Sekumpul ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

BONUS ARTIKEL TAMBAHAN

Cara Menjadi Wali Murid yang Baik Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Menjadi wali murid atau wali santri yang baik butuh kunci sukses tersendiri. Wali murid yang baik menjadi pintu utama lahirnya sosok murid/santri yang mudah menerima ilmu dari gurunya. Jangan sampai jadi wali murid yang malah menggangu atau menggagalkan proses belajar anaknya.

Di sini, kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bisa menjadi pelajaran buat semuanya, khususnya yang sedang mempunyai anak sedang ngaji.

Saat itu, ada seorang yang busuk hatinya ingin menfitnah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Orang itu lalu mencari jalan untuk menfitnahnya. Maka ia membuat lubang di dinding rumah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan mengintipnya.

Kebetulan, ketika ia mengintip Syekh Abdul Qadir, ia melihat Syekh Abdul Qadir sedang makan dengan muridnya. Syekh Abdul Qadir suka makan ayam dan setiap kali ia makan ayam dan makanan yang lain, ia akan makan separuh saja. Sisa makanan tersebut kemudian diberikan kepada muridnya.

Maka, orang tadi pergi kepada bapak murid Syekh Abdul Qadir tadi.

“Apa bapak punya anak yang ngaji kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani?”

“Ya, ada,” jawab bapak itu.

“Apa bapak tahu kalau anak bapak itu diperlakukan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani selayaknya seorang hamba dan kucing saja? Syekh Abdul Qadir itu memberi sisa makanannya pada anak bapak.”

Mendengar cerita itu, si bapak itu hatinya panas dan segera pergi ke rumah Syekh Abdul Qadir.

“Wahai tuan Syekh, saya mengantarkan anak saya kepada tuan Syekh bukan untuk jadi pembantu atau diperlakukan seperti kucing. Saya antarkan anak saya kepada tuan Syekh, supaya anak saya jadi orang alim.”

Mendengar perkataan si bapak ini, Syekh Abdul Qadir hanya menjawab secara ringkas saja.

“Kalau begitu, ambillah anakmu!”

Si bapak itu kemudian mengambil anaknya untuk diajak pulang. Ketika keluar dari rumah tuan Syekh menuju jalan pulang, bapak tadi bertanya pada anaknya beberapa hal mengenai ilmu hukum dan ilmu hikmah.  Ternyata semua persoalan itu dijawab dengan sangat lengkap. Maka, si bapak itu akhirnya berubah fikiran untuk mengembalikan anaknya kepada tuan Syekh Abdul Qadir.

“Wahai tuan Syekh, terimalah anak saya untuk belajar kembali dengan tuan Syekh.  Didiklah anak saya, tuan Syekh. Ternyata anak saya bukan seorang pembantu dan juga tidak diperlakukan seperti kucing. Saya melihat ilmu anak saya sangat luar biasa karena belajar denganmu.”

Mendengar pernyataan itu, maka Syekh Abdul Qadir kemudian menjawab.

“Bukan aku tidak mau menerimanya kembali. Tapi Allah sudah menutup pintu hatinya untuk menerima ilmu. Allah sudah menutup futuhnya (terbukanya) untuk mendapat ilmu. Ini disebabkan seorang ayah yang tidak beradab kepada guru.”

Inilah kisah sangat inspiratif kepada kita semua, khususnya para wali murid/santri. Kepada para guru/kyai, bukan saja santri yang wajib hormat, wali murid juga punya kewajiban yang sama. Santri dan wali santrinya itu sejatinya juga sama-sama murid dari sang guru. (Abu Umar/Bangkitmedia.com)

__________________

Semoga artikel Cara Menjadi Wali Murid yang Baik Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

simak video terkait di sini

simak artikel terkait di sini

peluang-usaha-depot-air-minum-2

Pos terkait