Tradisi Membuat Bubur Merah Putih Di Bulan Shafar

Tradisi Membuat Bubur Merah Putih Di Bulan Shafar

Pertanyaan: Tradisi Membuat Bubur Merah Putih Di Bulan Shafar

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Lembayu Lembayu

Bacaan Lainnya

Sebentar lagi bulan shofar, nah di bulan shofar itu ada tradisi bubur mira putih. Pertanyaannya sejak kapan bubur mira putih ini ada ? Dan bagimana asal usulnya ?

Jawaban Atas Pertanyaan Tradisi Membuat Bubur Merah Putih Di Bulan Shafar

Waalaikumsalam. Wr. Wb.

> Rizalullah Santrialit

Bubur merah putih atau tajin mera pote merupakan salah satu bubur yang dijadikan alat untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap Allah SWT, sebagimana Nabi Nuh mengungkapkan rasa syukurnya dengan memasak sisa-sisa bekal pada kejadian banjir bandang yang menimpa kaumnya yang ingkar.

Rasa syukur ini pula di wujudkan oleh masyarakat madura sehingga mereka membuat tajin mera pote.

Bubur atau tajin mera pote sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Madura, pada setiap bulan safar atau biasa orang Madura bilang Sappar, pada bulan inilah mereka membuat tajin mera pote.

Bubur ini sedikit berbeda dengan bubur yang lain seperti tajin slamet, dan Tajin Pedis. Khusus untuk bubur yang satu ini bahan bakunya  bukanlah beras melainkan tepung, bubur merah dibuat dari tepung ketan dan bubur putih dibuat dari tepung beras, rasanya pun berbeda jika yang merah manis dan yang putih rasanya asin sehingga kalau dimakan akan terasa enak manis dan asin.

Tradisi bubur merah putih ini, di laksanakan bukan tanpa alasan, ritual-ritual ini di laksanakan untuk mengenag sejarah penting dalam Islam, bagaimana sejarahnya ?

Sejarah…

Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib sang Cucu Rasulullah saw terbunuh oleh Yazid bin Muawiyah. Pembunuhan ini lebih tepat bila disebut dengan pembantaian karena tidak seimbangnya dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan. Pembantaian ini terjadi di padang Karbala ketika dalam perjalanan menuju Irak.

Kejadian pembunuhan terhadap Husain cucu Rasulullah saw ini, tidak boleh terhapus dari memori kolektif maupun individu generasi Muslim. Kejadian-kejadian dalam sejarah ini harus selalu dipupuk dengan subur sebagai salah satu media pendidikan kepahlawanan dalam Islam.

Berbagai metode pun dilakukan untuk mengenag sejarah tradisi kolaitas. Pada masyarakat madura misalnya kita mengenal tajin mera dan tajin pote (bubur merah putih) yang dibagikan pada tetangganya tidak lain untuk merawat ingatan sejarah tersebut secara perlambang.

Bubur putih bermakna rasa syukur akan panjngnya umur hingga mendapatkan tahun baru kembali, semoga kehidupan tambah makmur. Seperti rasa syukurnya Nabi Nuh setelah berlayar dari banjir bandang, seperti syukurnya Nabi Musa setelah mengalahkan Fir’aun.

Disamping itu Bubur Putih merupakan lambing kebenaran dan kesucian hati yang selalu menang dalam catatan sejarah yang panjang. Meskipun kemenangan itu tidak selamanya identik dengan kekuasaan, seperti Sayyidina Husain sebagai kelompok putihan yang ditumpas oleh Yazid bin Muawiyyah sang penguasa.

Sedangkan tajin mera (bubur merah) adalah pembanding yang selalu hadir dalam kehidupan di dunia berpasang-pasangan. Ada indah ada buruk, ada kebaikan ada kejahatan. Semoga semua hal-hal buruk itu senantiasa dijauhkan oleh Allah dari kita amien.

Jadi bubur yang berwarna merah dan putih merupakan representasi dari rasa syukur yang mendalam. Atas segala karunia Allah swt. Dan yang lebih penting dari itu semua, Tajin atau Bubur merupakan wahana untuk merawat ingatan akan adanya sejarah besar dalam Islam.

Wallohu A’lam (Rz)

Demikian semoga bermanfaat.

 

Sumber tulisan ada di sini.

Silahkan baca artikel terkait.

Pos terkait