0089. Hukum Menimbun Barang Untuk Dijual Saat Harga Mahal

  • Whatsapp
PERTANYAAN :
Assalamu alaikum wr wb. Bagaimana hukumnya menyimpan / menimbun barang, contoh seperti padi atau yang lainya dengan tujuan menunggu harga mahal ? [Aldy Maula].
JAWABAN :
Ihtikar (penimbunan) adalah menahan (menyimpan) barang pokok (aqwat) dari hasil pembelian saat harga beli tinggi dan dijual dengan harga yang lebih tinggi lagi, dengan tujuan memperoleh keuntungan yang lebih besar, pada kondisi dimana masyarakat (setempat atau di luar itu) berada dalam kebutuhan tinggi. Hukum ihtikar termasuk praktek jual-beli (mu’amalah) yang diharamkan, walaupun secara akad dihukumi sah. Dan keharaman itu semakin bertambah di saat kebutuhan semakin tinggi.
Ada beberapa poin menyangkut masalah ini :
1. Imsaak : menahan (menimbun). Berbeda kalau tidak ada unsure menahan, maka tidak dihukumi ihtikar yang haram. Seperti penjual warung membeli barang dari pasar dan langsung dijual sebagaimana biasa.
2. Maa isytaroohu : hasil pembelian. Berbeda bila barang yang disimpan itu hasil dari panen sendiri (ghollatu adldloi’ati atau ghollatu al alrdli), maka tidak dihukumi ihtikar yang haram.
3. Fil gholaa-i : harga beli mahal. Berbeda bila pembelian dilakukan dengan atau pada saat harga murah (standar), maka tidak termasuk ihtikar haram.
4. Al aqwaat : makanan pokok (sembako). Berbeda bila barang yang disimpan itu bukan makanan pokok, maka tidak termasuk haram. Tetapi Alqodli Husain menambahkan (ilhaq) bahwa menimbun pakaian pun apabila sedang sangat dibutuhkan bisa termasuk ihtikar, walaupun tidak haram minimal makruh tahrim. Barangkali dari wajhu (fatwa) qodli Husain ini, bisa diilhaq-kan bahwa jenis barang apapun apabila sudah memenuhi syarat IHTIKAR, maka bisa dihukumi makruh tahrim. Seperti pada kasus BBM dsb.
5. Niat atau tujuan ihtikar tidak mesti saat pembelian barang. Bisa saja niat itu muncul setelah pembelian dan melihat harga jual tinggi.
Juga Tidak termasuk ihtikar yang haram apabila :
1. Apabila penimbunan bertujuan untuk konsumsi sendiri, ini lebih ke penyediaan stok dengan cara memborong.
2. Apabila membeli dengan harga mahal dan dijual dengan harga yang lebih mahal tetapi pejualan dilakukan di tempat lain yang mata uangnyanya berbeda (kurs lebih tinggi), maka tidak termasuk ihtikar yang haram (ekspor – impor).
3. Atau dijual ke tempat yang daya belinya lebih tinggi (analisa pribadi).
Keharaman ihtikar salah satunya dikarenakan ada unsur TADHYIIQ yaitu membuat kesulitan kepada masyarakat umum minimal dalam sisi ekonomi/materi. Antara penjual dan pembeli tidak ada yang lebih utama dalam sisi mashlahat. Artinya, keduanya masing-masing saling memberi dan mendapat mashlahat dari praktek mu’amalahnya. Untuk mendapat mashlahat dari jual beli itu, maka aturan dan syarat jual beli harus dipenuhi, serta motif dan tujuannya pun harus mengarah ke kemaslahatan bersama. Setelah itu, masing-masing berhak untuk mendaya gunakan pendapatannya demi kemaslahatan masing-masing tapi dengan tidak merugikan pihak lain, dan itulah idealism jual beli.
Dan ihtikar adalah salah satu bentuk mu’amalah yang tidak memberi maslahat kepada pihak lain dan bisa berdampak negative terhadap perekonomian local (pembeli) maupun global (masyaakat umum). Terlepas dari tujuan apakah barang yang dibeli itu untuk dijual atau konsumsi sendiri, apabila bisa memicu gejolak pasar, dan apabila melihat keumumam hadits bahwa menyimpan barang (makanan) dalam kurun 40 hari adalah memancing murka Alloh dan tidak menjadikan berkah, maka jelas tindakan ihtikar itu termasuk perbuatan tercela. Ibarot yang lebih lengkapnya di I’anah bab albuyuu’u almuharromat, awal jilid 3, hal 20-an. Wallohu almu’iin wa bihii nasta’iin. [Yupiter Jet ].
– Fathul mu’in :
الِاحْتِكَارُ هو إمساك ما اشتراه في وقت الغلاء – لا الرخص – ليبيعه بأكثر عند اشتداد حاجة أهل محله أو غيرهم إليه
– I’anatut Tholibin :
الِاحْتِكَارُ هو إمْسَاكُ مَا اشْتَرَاهُ فِي الْغَلَاءِ لَا الرُّخْصِ مِنْ الْأَقْوَاتِ وَلَوْ تَمْرًا أَوْ زَبِيبًا لِيَبِيعَهُ بِأَغْلَى مِنْهُ عِنْدَ الْحَاجَةِ لَا لِيُمْسِكَهُ لِنَفْسِهِ وَعِيَالِهِ أَوْ لِيَبِيعَهُ بِمِثْلِ ثَمَنِهِ أَوْ أَقَلَّ وَلَا إمْسَاكُ غَلَّةِ أَرْضِهِ
– Asnal Matholib :
قَالَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ أَنَّ الثِّيَابَ إذَا كَانَ النَّاسُ يَحْتَاجُونَ إلَيْهَا لِشِدَّةِ الْبَرْدِ غَايَةَ الِاحْتِيَاجِ أَوْ لِسَتْرِ الْعَوْرَةِ يُكْرَهُ لَهُ الْإِمْسَاكُ فَإِنْ أَرَادَ كَرَاهَةَ التَّحْرِيمِ فَظَاهِرٌ وَهُوَ مُوَافِقٌ لِمَا قُلْته مِنْ أَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي كُلِّ مَا يُحْتَاجُ إلَيْهِ غَالِبًا مِنْ الْمَطْعُومِ وَالْمَلْبُوسِ كَمَا قَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ فِي بَيْعِ حَاضِرٍ لِبَادٍ وَإِنْ أَرَادَ كَرَاهَةَ التَّنْزِيهِ فَبَعِيدٌ
– Asnal matholib :
فَيَحْرُمُ الِاحْتِكَارُ ) لِلتَّضْيِيقِ عَلَى النَّاسِ ( قَوْلُهُ لِلتَّضْيِيقِ عَلَى النَّاسِ فِي أَمْوَالِهِمْ ) وَلَيْسَ الْمُشْتَرِي بِأَوْلَى مِنْ الْبَائِعِ بِالنَّظَرِ فِي مَصْلَحَتِهِ فَإِذَا تَقَابَلَتْ الْمَصْلَحَتَانِ فَلْيُمَكَّنَا مِنْ الِاجْتِهَادِ لِأَنْفُسِهِمَا
– Tuhfatl ahwadzy :
قوله عليه السلام: مَرْفُوعًا : مَنْ اِحْتَكَرَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ طَعَامَهُمْ ضَرَبَهُ اللَّهُ بِالْجُذَامِ وَالْإِفْلَاسِ . أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ قَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ : إِسْنَادُهُ حَسَنٌ  قوله عليه السلام: من احتكر طعاما أربعين يوما ثم تصدق به لم يكن له كفارة
– I’anatut Tholibin :

(تنبيه) قال في المغني: يحرم التسعير – ولو في وقت الغلاء – بأن يأمر الوالي السوقة أن لا يبيعوا أمتعتهم إلا بكذا، للتضييق على الناس في أموالهم. وقضية كلامهم أن ذلك لا يختص بالاطعمة، وهو كذلك. يعني أن الاحتكار هو الامساك للذكور، وإن لم يكن وقت الشراء قاصدا ذلك.

Pos terkait