0337. PENGERTIAN TANGAN ALLAH SWT

Oleh Timur Lenk
Firman Allah:
لِما خَلقتُ بيَديّ (ص: 75) / يَدُ الله فَوقَ أيْديْهمْ (الفتح: 10)، بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوْطَتَان (المائدة: 64)، بيَدهِ مَلكُوْتُ كُلّ شَىء (يس: 83)، بيَدِكَ الْخَيْر (ءال عمران: 26)، وَالسّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بأيْد (الذاريات: 47)
[Ayat-ayat ini tidak boleh dipahami dalam makna zahirnya yang mengatakan seakan bahwa Allah memiliki anggota badan; tangan. Makna zahir ayat-ayat ini seakan mengatakan bahwa Allah memiliki satu tangan, dua tangan, dan atau tangan yang sangat banyak].
Kata al-yad ”اليد” dalam bahasa Arab memiliki makna yang sangat banyak, di antaranya dalam makna an-Ni’mah wa al-Ihsân ”النعمة والإحسان”, artinya; ”Karunia (nikmat) dan kebaikan”. Adapun makna perkataan orang-orang Yahudi dalam firman Allah: Yadullâh Maghlûlah ”يد الله مغلولة” adalah dalam makna Mahbûsah ’An an-Nafaqah ”محبوسة عن النفقة”, artinya menurut orang-orang Yahudi Allah tidak memberikan karunia dan nikmat, [bukan arti ayat tersebut bahwa Allah memiliki tangan yang terbelenggu].
Makna lainnya, kata al-yad dalam pengertian ”al-Quwwah”, ”القوة” ; artinya ”Kekuatan atau kekuasaan”. Orang-orang Arab biasa berkata: ”Lahû Bi Hadzâ al-Amr Yad”, ”له بهذا الأمر يد”, artinya: ”Orang itu memiliki kekuatan (kekuasaan) dalam urusan ini”. Firman Allah: ”بل يداه مبسوطتان”; yang dimaksud adalah dalam pengertian ini, artinya bahwa nikmat dan kekuasaan Allah sangat luas [bukan artinya bahwa Allah memiliki dua tangan yang sangat lebar].
Demikian pula firman Allah tentang penciptaan Nabi Adam: ”لما خلقت بيدي”; juga dalam pengertian bahwa Allah menciptakan Nabi Adam dengan kekuasaan-Nya dan dengan karunia dari-Nya. Kemudian pula diriwayatkan dari Imam al-Hasan dalam tafsir firman Allah: ”يد الله فوق أيديهم”; beliau berkata: ”Kata ”يد” di sini yang dimaksud adalah karunia dan nikmat Allah”. Inilah penafsiran-panafsiran dari para ulama Ahli Tahqîq.
Sementara al-Qâdlî Abu Ya’la [1] berkata: ”اليدان adalah bagian dari sifat Dzat Allah”. [Artinya ia menetapkan bahwa Dzat Allah memiliki anggota-anggota badan yang memiliki bagian-bagian]. Na’ûdzu billâh.
Apa yang diungkapkan oleh Abu Ya’la ini adalah pendapat sesat yang sama sekali tidak memiliki argumen dan hanya didasarkan kepada hawa nafsu belaka. Dalam alasannya yang sangat lemah dia berkata: ”Sendainya Nabi Adam tidak memiliki keistimewaan tentu Allah tidak akan mengungkapkan dengan kata ”اليد” dalam penciptaannya. Allah mengungkapkan dengan kata ”Bi Yadayya” ”بيَدَيّ”; jika ini diartikan dalam makna kekuatan atau kekuasaan maka berarti Nabi Adam tidak memiliki keistimewaan dibanding makhluk hidup lainnya; oleh karena semua makhluk diciptakan dengan kekuatan dan kekuasaan Allah, dan tentunya tidak akan diungkapkan dalam redaksi ”mutsannâ” (bentuk kata untuk menunjukan dua)”. [Dengan argumen ini Abu Ya’la hendak menetapkan bahwa Allah memiliki dua tangan].
Kita jawab kesesatan Abu Ya’la ini: ”Tidak demikian wahai Abu Ya’la. Dalam bahasa Arab bentuk kata mutsannâ biasa dipakai untuk mengungkapkan kekuatan dan kekuasaan, seperti bila dikatakan: ”ليس لي بهذا الأمر يدان”; artinya ”Saya tidak memiliki kekuatan untuk mengurus perkara ini”. Dalam sebuah bait sya’ir, Urwah bin Hizam berkata:
فَقَالا شفَاك اللهُ والله مَا لنَا بِما ضمّت منكَ االضّلوعُ يدَان
[Artinya: ”Mereka berdua berkata: ”Semoga Allah memudahkannya bagimu, karena demi Allah kami tidak memiliki kekuatan (kekuasaan) untuk memudahkan segala kesulitan yang tengah menimpamu”].
Adapun perkataan kaum Musyabbihah bahwa penggunaan kata ”اليدان” [dalam bentuk mutsannâ] dalam penciptaan Nabi Adam yang langsung disandarkan kepada Allah [yaitu menjadi ”Bi Yadayya” ”بيديّ”] adalah untuk mengungkapkan keistimewaan, artinya bahwa penciptaan Nabi Adam ini berbeda dengan penciptaan Allah terhadap binatang-binatang yang lain; kita jawab kesesatan mereka ini bahwa dalam al-Qur’an Allah berfirman:
أنّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمّا عَمِلَتْ أيْدِيْنَا أنْعَامًا (يس: 71)
Dalam ayat ini dipakai kata ”أيدينا” [bentuk jamak] yang langsung disandarkan kepada Allah. Ayat ini tidak untuk menunjukan bahwa binatang-binatang ternak memiliki keistimewaan di atas seluruh binatang lainnya hanya karena redaksi penciptaannya dengan kata ”أيدينا” yang langsung disandarkan kepada Allah. [Apakah hanya dengan alasan bahwa penciptaan Nabi Adam dan binatang-binatang ternak disandarkan langsung kepada Allah lalu kemudian keduanya memiliki keistimewaan yang sama.Kemudian dari pada itu, Allah berfirman:
وَالسّمَاءَ بَنيْنَاهَا بأيْد (الذاريات: 47)
[Dalam ayat ini dipergunakan kata ”أيدٍ”; bentuk jamak dari ”يد”. Ayat ini tidak boleh dipahami makna zahirnya yang mengatakan seakan Allah memiliki anggota badan; tangan yang sangat banyak].
Makna “أيدٍ” dalam ayat ini adalah “القوّة”, artinya “kekuatan”, dengan demikian makna ayat tersebut: ”Dan langit telah Kami (Allah) membangunnya (menciptakannya) dengan kekuatan”. [Dalam ayat ini disebutkan penciptaan langit dengan kata “بنيناها بأيد” yang disandarkan langsung kepada Allah; ini tidak serta-merta bahwa langit memiliki keistimewaan yang sama dengan Nabi Adam. Dengan demikian menjadi jelas bahwa redaksi ”بيَدَيّ” (bentuk mutsannâ) dalam penciptaan Nabi Adam bukan untuk menetapkan bahwa Allah memiliki dua tangan].
Adapun tentang penciptaan Nabi Adam yang diungkapkan dengan redaksi; ”نفخ فيه من روحه”; adalah untuk tujuan pemuliaan [artinya penyandaran secara langsung kepada Allah di sini disebut dengan Idlâfah at-Tasyrîf; bahwa penciptaan Nabi Adam sangat dimuliakan oleh Allah], ini berbeda dengan penciptaan makhluk lainnya yang diungkapkan dengan “al-Fi’l wa at-Takwîn”, “الفعل والتكوين” [artinya disebutkan dengan proses penciptaan; tanpa langsung disandarkan kepada Allah].
Firman Allah tentang penciptaan Nabi Adam ini (QS. Shad: 75) harus dipahami demikian, tidak boleh dipahami bahwa Allah memiliki anggota badan; memiliki dua anggota tangan, karena pemahaman seperti ini jelas tidak sesuai bagi keagungan Allah. Sesungguhnya Allah dalam perbuatan-Nya tidak membutuhkan kepada peralatan-peralatan, dan tidak membutuhkan kepada anggota-anggota badan; Allah maha suci dari itu semua. Sangat tidak layak bagi kita untuk mencari-cari pemahaman tentang kemuliaan penciptaan Nabi Adam lalu kita melalaikan kesucian Allah dengan menetapkan anggota tangan bagi-Nya, padahal Allah maha suci dari bagian-bagian dan maha suci dari alat-alat (anggota-anggota badan) dalam segala perbuatan-Nya, karena sifat-sifat yang demikian itu adalah sifat-sifat benda
Yang sangat parah dan mengherankan salah satu dari tiga orang pemuka akidah tasybîh yang kita sebutkan di atas berkeyakinan bahwa Allah besentuhan; dengan dasar akidah sesat ini ia mengatakan bahwa Allah dengan tangan-Nya menyentuh tanah yang merupakan bahan bagi penciptaan Nabi Adam. Lalu orang ini mengatakan bahwa tangan-Nya tersebut adalah bagian dari Dzat-Nya. Na’ûdzu billâh. Siapapun yang berakidah tasybîh semacam ini jelas berkeyakinan bahwa Allah sebagai benda (jism); dan itu artinya –dengan dasar keyakinan buruk seperti ini– bahwa Allah menyatu (bersentuhan) dengan tanah yang merupakan bahan bagi penciptaan Nabi Adam, dan setelah bersentuhan dengan tanah lalu Allah mulai menciptakan Nabi Adam; adakah dapat diterima akal sehat pemahaman semacam ini padahal jelas merupakan perkara indrawi?! Adakah dalam keyakinan mereka bahwa Allah memiliki jarak; artinya jauh dari tanah tersebut, dan lalu Allah butuh untuk mendekat kepadanya?! Na’ûdzu billâh. Allah sendiri telah membantah orang yang berkeyakinan proses penciptaan Nabi Adam semacam ini dengan firman-Nya:
إنّ مثَل عيْسَى عنْد الله كمَثَل ءادَم خَلقَه منْ تُرَاب ثُمّ قالَ لَه كُنْ فَيكُوْن (ءال عمران: 59)
[Maknanya: “Sesungguhnya perumpamaan Nabi Isa bagi Allah sebagaimana Nabi Adam; Dia (Allah) menciptakan Nabi Adam dari tanah kemudian mengatakan bagi tanah: “Jadilah”[1], maka terjadilah”. (QS. Ali Imran: 59]
Kata “kun” secara literal berarti; “Jadilah”; bukan artinya Allah berkata-kata dengan huruf-huruf, suara, dan bahasa. Tetapi kata “kun” adalah untuk mengungkapkan bahwa segala apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi dengan cepat dan tanpa ada siapapun yang dapat menghalangi-Nya..
—————
[1] Abu Ya’la yang tersebut di atas adalah abu ya’la al-mujassim bukan abu ya’la ahli hadits ahlus sunnah.

Pos terkait