1215. WUDHU BUKAN PEMISAH MUWAALAH SHALAT JAMA’ TAQDIIM

  • Whatsapp
PERTANYAAN :
Tadz, kalau misalnya kita sholat jama’, kemudian pada sholat yang kedua wudhu kita batal. Apakah harus mengulangi dari sholat yang pertama atau hanya sholat yang kedua saja? syukron jazakallah.
JAWABAN :
Dalam shalat Jama’ Taqdiim disyaratkan harus Muwalah (terus-menerus) antara sholat yang pertama dan kedua tidak terpisah oleh waktu yang lama kadar 2 (dua) roka’at sholat selama yang mencegah terjadinya muwaalah tersebut bukan hal-hal yang berkaitan dengan shalat seperti SYARAT KEABSHAHAN SHALAT contoh wudhu.
Bahkan andai wudhu yang ia kerjakan dalam pertanyaan diatas bukan wudhu yang menjadi persyaratan shalat, hanya wudhu yang diperbaharui muwaalahnnya tidak rusak dan shalat jama’ taqdimnya tetap SAH selama waktunya tidak sampai kadar dua rokaat shalat.
( و ) ثالثها ( الولاء ) بينهما ( له ) أي للجمع ؛ لأن الجمع يجعلهما كصلاة واحدة ، فوجب الولاء كركعات الصلاة ؛ ولأنه صلى الله عليه وسلم { لما جمع بين الصلاتين بنمرة والى بينهما وترك الرواتب وأقام الصلاة بينهما .} رواه الشيخان ولولا اشتراط الولاء لما ترك الرواتب ، وقد يمنع بأنه تركها لكونه سنة لا شرطا
YANG KETIGA DARI SYARAT JAMA’ TAQDIM adalah MUWAALAH antara shalat keduanya.
Karena shalat jama’ menjadikan dua shalat seperti shalat satu maka wajib terus-menerus sebagaimana rakaat-rakaat dalam shalat dan karena baginda Nabi Muhammad SAW saat menjama dua shalat di namrah mengerjakan muwaalah antara kedua shalatnya serta meninggalkan shalat rawatib dan shalat diantara jeduanya” (HR. Bukhori – Muslim). Bila muwaalah tidak disyaratkan tentu beliau tidak meninggalkan shalat rawatib, dan ini dilarang karena shalat rowaatib hanyalah sunah dan bukan syarat. [ Syarh al-Bahjah IV/466 ].
( قوله بأن كان دون قدر ركعتين ) تصوير للفصل اليسير فهو أن ينقص عما يسع ركعتين بأخف ممكن على الوجه المعتاد فلا يضر الفصل بوضوء ولو مجددا وتيمم وطلب للماء خفيف وزمن أذان وإن لم يكن مطلوبا وزمن إقامة على الوسط المعتدل في ذلك حتى لو فصل بمجموع ذلك لم يضر حيث لم يطل الفصل
(Keterangan dengan gambaran kurang dari kadar waktu dua rakaat shalat) artinya tidak membahayakan terjadinya muwaalah perbuatan yang masanya kurang dari kadar waktu dua rakaat shalat yang seringkas mungkin dan secara normal seperti dipisah dengan wudhu meski hanya wudhu untuk memperbaharui, tayammun, mencari air dalam waktu ringan, waktu adzan meskipun tidak disunahkan (saat menjalani shalat kedua dari shalat jama’), waktu IQAMAH yang kesemuanya dilakukan dalam waktu normal, bahkan bila antara kedua shalat jama’ tersebut dipisah dengan semua perbuatan-perbuatan diatas secara keseluruhan asalkan tidak lama maka tidak berbahaya. [ I’aanah at-Thoolibiin II/103 ]. Wallohu a’lam. [Masaji Antoro].
LINK ASAL :
www.fb.com/groups/piss.ktb/360282127327935/

Pos terkait