137. NASHOIHUL IBAD Karya SYEIKH NAWAWI AL-BANTANIE ( BAGIAN 2 )

NASHOIHUL IBAD Karya SYEIKH NAWAWI AL-BANTANIE yang merupakan syarah atas kitab AS-SYAIKH SYIHABUDDIN AHMAD BIN HAJAR AL-ASQOLANI (IBNU HAJAR AL-ASQOLANI) (2)
BAB TSUNA’I (dua-dua).
Didalamnya terdapat 30 nasehat,yaitu 4 khobar, dan 26 atsar.
Yang kami (imam Nawawie Al-bantanie) maksud dengan Khobar ialah sabda-sabda Nabi SAW, sedangkan Atsar ialah ucapan-ucapan sahabat dan tabi’in.
Diantara 30 nasehat itu.. maqola yang pertama: Hadist yg diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwasannya beliau bersabda: (DUA PERKARA, TIDAK ADA SESUATU APAPUN YG LEBIH UTAMA DARI KEDUANYA YAITU BERIMAN KEPADA ALLAH DAN MEMBERI MANFA’AT KEPADA ORANG ISLAM) baik dengan ucapan, kedudukan,harta, atau dengan badan.
Rasulullah SAW bersabda: ” siapa saja yg memasuki pagi hari, ia tidak berniat Mendzolimi seseorang, maka diampuni baginya terhadap segala dosa. Dan siapa saja yang memasuki pagi hari berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang islam, maka baginya pahala seperti pahala haji mabrur”.
Dan Nabi SAW bersabda: ” hamba yg paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfa’at bagi manusia lainnya. Dan amal perbuatan yang paling utama ialah memasukkan rasa senang ke dalam hati orang yang beriman, dengan cara menyingkirkan rasa lapar darinya, atau menghilangkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya.
‎(DUA PERILAKU, TIDAK ADA SESUATUPUN YANG LEBIH KOTOR DARI KEDUANYA YAITU MENYEKUTUKAN ALLAH DAN MEMBAHAYAKAN ORANG2 ISLAM) pada tubuh2 mereka, atau harta2 mereka. Karna sesungguhnya seluruh perintah Allah ta’ala kembali kepada 2 perkara yaitu mengagungkan Allah dan menyayangi makhluk-Nya.
Sebagaimana Allah berfirman:…”dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat” (qs. Al-baqarah:43) 
Dan firman Allah ta’ala:….”bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu”…(qs:lukman:14)
Diriwayatkan dari Uwais Al-Qarniy, bahwasannya beliau berkata: ”aku lewat di salah satu pantai bertemu dengan seorang rahib (pendeta yahudi), lalu aku berkata: ”wahai rahib,apa derajat awal yang bisa dicapai oleh seorang murid”
Rahib berkata:”melawan kedzhaliman dan meringankan punggung dari berbagai tanggung jawab, karna sesungguhnya tidak akan meningkat amal seseorang,sementara ia mempunyai tanggung jawab atau perbuatan dzholim”
Maqola kedua Nabi SAW bersabda: (HENDAKLAH KALIAN DUDUK DENGAN ULAMA) yakni mereka yang beramal sesuai dengan ilmunya (DAN MENDENGARKAN PERKATAAN ORANG-ORANG BIJAK) yakni mereka yang mengenal/mengetahui Zat Allah ta’ala, mereka yang sesuai dengan kebenaran dalam ucapan dan tindakannya/amalnya (KARNA SESUNGGUHNYA ALLAH TA’ALA MENGHIDUPKAN HATI YANG MATI DENGAN CAHAYA HIKMAH) yakni ilmu yang bermanfa’at(SEBAGAIMANA DIA MENGHIDUPKAN BUMI YANG MATI DENGAN AIR HUJAN).
 Dan didalam hadist riwayat imam Thobroni dan Abu Hanifa:”duduklah kalian dengan para pembesar ilmu,bertanyalah kalian kepadaa ulama,dan bergaullah kalian dengan hukama/orang bijak”.
Dan didalam riwayat lain:”duduklah dengan ulama dan para pemilik kebijaksanaan,dan bergaullah dengan para pembesar ilmu”.
Maksudnya adalah..ulama itu ada 3 macam:
1.ulama yang menguasai hukum-hukum Allah ta’ala, mereka adalah para pemegang/ahli fatwa.
2.ulama yang hanya ma’rifat kepada Zat Allah saja, mereka adalah para Hukama (orang-orang bijak/sufi). Maka didalam bergaul dengan mereka terjadi pencerahan Akhlak, karna hati mereka memancarkan ma’rifatullah, dan sirr mereka memancarkan cahaya-cahaya keagungan Allah.
3.ulama dengan kedua macam tersebut mereka adalah Al-Kubaro (pembesar ulama), karna sesungguhnya bergaul dengan Ahlillah menghasilkan perilaku yang terpuji.
Manfa’at pandangan melebihi manfa’at ucapan. Maka siapa saja yang pandangannya bermanfa’at kepadamu,maka akan bermanfa’at segala ucapannya, dan siapa yang tidak demikian (pandangannya), maka tidak bermanfa’at (ucapannya).
Imam Suhrowardiy perna mengelilingi salah satu masjid Khoif di mina, wajah beliau berseri-seri. Lalu beliau ditanya mengenai hal itu.
Lalu beliau berkata: ”sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yg apabila mereka melihat seseorang, maka orang tersebut mendapatkan kebahagian (dunia/akhirat) dan aku sedang mencari hal itu
Nabi SAW. Bersabda: ”akan datang suatu zaman atas umatku, dimana mereka lari/menjauhi para Ulama dan Fuqoha, lalu Allah menguji mereka dengan 3 macam ujian:
Ujian pertama, Allah ta’ala menghilangkan keberkahan dari usaha mereka.
Ujian kedua, Allah ta’ala memberikan kekuasaan kepada penguasa Dzolim atas mereka.
Yang ketiga, mereka keluar dari dunia (mati) tanpa iman.”
Naudzu billah min dzalik
Maqolah yang ketiga: Dari Abu Bakar Shiddiq RA: (”SIAPA SAJA YANG MASUK KUBUR TANPA BEKAL) yakni berupa amal sholeh (MAKA SEAKAN-AKAN IA MENGARUNGI LAUTAN TANPA PERAHU”) yakni, maka ia akan benar2 tenggelam dan tidak ada yang bisa menyelamatkannya, kecuali orang-orang yang bisa menyelamatkannya.
Sebagaimana Nabi SAW bersabda: ”keadaan mayat didalam kubur tak ubahnya seperti orang yang tenggelam yang butuh pertolongan.” 
yakni, yg mencari sesuatu agar mendapatkan pertolongan
Maqolah ke empat (DARI UMAR RA) dikutip dari syekh Abdul Mu’thiy as-samlawi: ” bahwasannya Nabi SAW bersabda kepada Malaikat Jibril AS: ”jelaskan padaku kebaikan-kebaikan Umar” 
Lalu jibril berkata: ”seandainya lautan menjadi tinta,pepohonan menjadi pena, maka pasti aku tidak dapat menghitungnya”
Lalu Nabi Bersabda: ”jelaskan padaku kebaikan-kebaikan Abubakar”
Lalu Jibril berkata: ”Umar adalah salah satu kebaikan dari berbagai kebaikan Abubakar”
(KEMULIAN DUNIA DENGAN HARTA,DAN KEMULIAN AKHIRAT DENGAN AMAL SHALEH) 
Maksudnya: tidak akan kuat dan baik urusan dunia kecuali dengan harta benda, dan tidak akan menjadi kuat dan baik urusan Akhirat kecuali dengan amal-amal Shaleh.
Maqolah kelima: (DARI UTSMAN RA: ”GELISAH TERHADAP DUNIA ADALAH KEGELAPAN DIDALAM HATI, DAN GELISA TERHADAP AKHIRAT ADALAH CAHAYA DIDALAM HATI)
maksudnya adalah bersedih dalam urusan yang berkaitan dengan urusan dunia, akan menjadikan kegelapan didalam hati, sedangkan bersedih dalam urusan yg berkaitan dengan akhirat menjadikan penerang hati.
Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai kegelisahan kami yang paling besar dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai tempat tujuan ilmu kami.
maqola ke enam: (DARI ALI RA.:”SIAPA SAJA MENCARI ILMU,MAKA SURGA BERADA DALAM PENCARIAANYA. DAN SIAPA SAJA MENCARI MA’SIAT MAKA NERAKA BERADA DALAM PENCARIANNYA”) maksudnya: siapa saja yang sibuk dengan ilmu yang bermanfa’at yg tidak boleh bagi setiap orang baligh lagi berakal tidak mengetahuinya,maka hakikatnya adalah sebagai pencari surga dan Ridho Allah ta’ala dan siapa saja yang ingin bermaksiat,maka hakikatnya adalah ia sebagai pencari neraka dan murka Allah ta’ala.
Maqolah ketujuh: (DARI YAHYA BIN MU’ADZ RA: TIDAK PERNAH BERMAKSIAT KEPADA ALLAH,SEORANG YANG MULIA)
Yakni orang yg terpuji perbuatannya, yaitu orang yang memuliakan dirinya dengan bertakwa dan menjaga diri dari maksiat.
(DAN TIDAK PERNAH MENDAHULUKAN KEPENTINGAN DUNIA)
Yakni tidak mengedepankan dan mengutamakannya
(ATAS AKHIRAT,SEORANG YANG BIJAK).
Yakni orang yg benar dalam perbuatannya, yaitu orang yang menahan dirinya dari sesuatu yang bertentangan dengan akal sehatnya.
Maqolah ke delapan: (DARI AL-A’MASYI) nama beliau adalah Sulaiman bin Mahron Al-Kufiy RA. (”SIAPA SAJA YANG MODALNYA TAKWA, MAKA LISANNYA TIDAK MAMPU MENYIFATI KEUNTUNGAN AGAMANYA, DAN SIAPA SAJA YANG MODALNYA DUNIA, MAKA LISANNYA TIDAK MAMPU MENYIFATI KERUGIAN AGAMANYA.’‘)
Maksudnya adalah: siapa saja yang berpegang pada ketakwaan dengan tunduk patuh pada perintah2 Allah ta’ala dan menjauhi segala maksiat dengan mendasari segala perbuatannya sesuai dengan syariat agama, maka ia memiliki kebaikan yang banyak yang tidak terhingga (sehingga lisan tidak mampu menyifatinya).
Dan siapa saja yang berpegang pada perkara2 yang bertentangan dengan syariat agama, maka ia memiliki kejelekan yang banyak, tidak mampu lisan untuk menyebutkan banyaknya jumlah kejelekannya itu.
Maqola kesembilan: (DARI SUFYAN ATS-TSAURIY RA) beliau adalah guru Imam Malik ra. Beliau berkata: (SETIAP MAKSIAT) yang timbul (DARI NAFSU) yakni keinginan jiwa terhadap sesuatu (MAKA HAL ITU DAPAT DIHARAPKAN AMPUNANNYA) yakni ampunan dari maksiat itu.
(SETIAP MAKSIAT) yg timbul (DARI KESOMBONGAN) yakni mengaku mempunyai kelebihan/keutamaan (MAKA SESUNGGUHNYA HAL ITU TIDAK DAPAT DIHARAPKAN AMPUNANNYA, KARNA MAKSIAT IBLIS BERSUMBER DARI KESOMBONGAN) iblis menyangka bahwa sesungguhnya ia lebih baik dari baginda kita Nabi Adam.
(DAN KESALAHAN) Nabi Adam AS. (BERSUMBER DARI NAFSU) dengan sebab keinginan beliau untuk merasakan buah Syahwat yang telah dilarang.
Maqolah kesepuluh: (DARI SEBAGIAN ORANG ZUHUD) 
mereka adalah orang2 yang meremehkan dunia dan mereka tidak memperdulikannya, tetapi mereka hanya mengambil dari dunia sekedar kebutuhan mereka
mereka berkata: (SIAPA SAJA YANG BERBUAT DOSA)
Yakni ia menanggung/membawa dosa itu
(SEDANGKAN IA TERTAWA)
Yakni dalam keadaan gembira dengan menanggung dosa tersebut
(MAKA ALLAH AKAN MEMASUKANNYA KE NERAKA,DALAM KEADAAN IA MENANGIS)
Karna sesungguhnya haknya adalah menyesal dan memohon ampun kepada Allah terhadap dosa tersebut.
(DAN SIAPA YG MELAKUKAN KETA’ATAN SEDANGKAN IA MENANGIS)
Karna malu kepada Allah ta’ala dan takut kepada-Nya atas kelalaiannya dalam keta’atannya itu
(MAKA SESUNGGUHNYA ALLAH AKAN MEMASUKANNYA KE DALAM SURGA DALAM KEADAAN TERTAWA)
Yakni ia bergembira dengan sangat gembira karna berhasil dalam pencariaanya, yaitu ampunan Allah ta’ala.

Pos terkait