Hukum Mengambil Kembali Hibah Yang Telah Di Berikan

Hukum Mengambil Kembali Hibah Yang Telah Di Berikan

Pertanyaan: Bagaimana Hukum Mengambil Kembali Hibah Yang Telah Di Berikan?

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Maaf ustadz, mohon penjelasannya: hibah adalah suatu pemberian semasa hidup seseorang, baik kepada ahli waris maupun kepada orang lain, pertanyaanya, kalau orang tua hibah kepada anaknya kemudian di lain waktu orang tuanya mengambil pemberiannya kembali, apakah itu boleh atau tidak? kalau mau membatalkan apakah harus ada persetujuan dari yang diberi hibah atau tidak? mohon penjelasan nya terima kasih.

Bacaan Lainnya

[Ibnu Umar Alrozaqi].

Jawaban atas pertanyaan Hukum Mengambil Kembali Hibah Yang Telah Di Berikan

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Hukumnya khilaf ulama, di antara yang membolehkan adalah keterangan berikut: Boleh membatalkan semuanya atau membatalkan sebagiannya dengan tujuan taswiyah / menyama-ratakan pemberian di antara anak-anaknya.

ﻓﻲﺍﻟﻤﻐﻨﻲﻻﺑﻦﻗﺪﺍﻣﺔﺍﻟﻤﻘﺪﺳﻲﺭﺣﻤﻪﺍﻟﻠﻪ:…ﻭﻗﻮﻝﺍﻟﺨﺮﻗﻲ:”ﺃﻣﺮﺑﺮﺩﻩ”ﻳﺪﻝﻋﻠﻰﺃﻥﻟﻸﺏﺍﻟﺮﺟﻮﻉﻓﻴﻤﺎﻭﻫﺐﻟﻮﻟﺪﻩﻭﻫﻮﻇﺎﻫﺮﻣﺬﻫﺐﺃﺣﻤﺪﺳﻮﺍﺀﻗﺼﺪﺑﺮﺟﻮﻋﻪﺍﻟﺘﺴﻮﻳﺔﺑﻴﻦﺍﻷﻭﻻﺩﺃﻭﻟﻢﻳﺮﺩﻭﻫﺬﺍﻣﺬﻫﺐﻣﺎﻟﻚ,ﻭﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻲﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲﻭﺇﺳﺤﺎﻕ,

Dalam kitab Almughni diterangkan, dhohir pendapat Imam Ahmad membolehkan kepada seorang bapak membatalkan hibah kepada anak-anaknya.

ﻭﺃﺑﻲﺛﻮﺭﻭﻋﻦﺃﺣﻤﺪﺭﻭﺍﻳﺔﺃﺧﺮﻯ:ﻟﻴﺲﻟﻪﺍﻟﺮﺟﻮﻉﻓﻴﻬﺎﻭﺑﻬﺎﻗﺎﻝﺃﺻﺤﺎﺏﺍﻟﺮﺃﻱﻭﺍﻟﺜﻮﺭﻱ,ﻭﺍﻟﻌﻨﺒﺮﻱ….ﻭﻟﻨﺎﻗﻮﻝﺍﻟﻨﺒﻲـﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢـﻟﺒﺸﻴﺮﺑﻦﺳﻌﺪ:”ﻓﺎﺭﺩﺩﻩ”ﻭﺭﻭﻯ:”ﻓﺄﺭﺟﻌﻪ”ﺭﻭﺍﻩﻛﺬﻟﻚﻣﺎﻟﻚﻋﻦﺍﻟﺰﻫﺮﻱﻋﻦﺣﻤﻴﺪﺑﻦﻋﺒﺪﺍﻟﺮﺣﻤﻦ,ﻋﻦﺍﻟﻨﻌﻤﺎﻥﻓﺄﻣﺮﻩﺑﺎﻟﺮﺟﻮﻉﻓﻲﻫﺒﺘﻪﻭﺃﻗﻞﺃﺣﻮﺍﻝﺍﻷﻣﺮﺍﻟﺠﻮﺍﺯﻭﻗﺪﺍﻣﺘﺜﻞﺑﺸﻴﺮﺑﻦﺳﻌﺪﻓﻲﺫﻟﻚﻓﺮﺟﻊﻓﻲﻫﺒﺘﻪ ﻟﻮﻟﺪﻩ…_ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻗﺪﺍﻣﺔ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻳﻀﺎ:ﻭﻇﺎﻫﺮ ﻛﻼﻡﺍﻟﺨﺮﻗﻲ ﺃﻥ ﺍﻷﻡ ﻛﺎﻷﺏ,ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﻬﺒﺔ ﻷﻥﻗﻮﻟﻪ” :ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺎﺿﻞ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﻻﺩﻩ”ﻳﺘﻨﺎﻭﻝ ﻛﻞ ﻭﺍﻟﺪ ﺛﻢﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺳﻴﺎﻗﻪ” :ﺃﻣﺮ ﺑﺮﺩﻩ”ﻓﻴﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﻡ ﻭﻫﺬﺍﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻷﻧﻬﺎ ﺩﺍﺧﻠﺔ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ” :ﺇﻻ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻓﻴﻤﺎ ﻳﻌﻄﻲ ﻭﻟﺪﻩ”ﻭﻷﻧﻬﺎ ﻟﻤﺎ ﺩﺧﻠﺖ ﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ـﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ـ:ﺳﻮﻭﺍ ﺑﻴﻦ ﺃﻭﻻﺩﻛﻢ(ﻳﻨﺒﻐﻲﺃﻥ ﻳﺘﻤﻜﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺴﻮﻳﺔ ﻭﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﻬﺒﺔ ﻃﺮﻳﻖ ﻓﻲﺍﻟﺘﺴﻮﻳﺔ,ﻭﺭﺑﻤﺎ ﺗﻌﻴﻦ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻤﻜﻦ ﺇﻋﻄﺎﺀﺍﻵﺧﺮ ﻣﺜﻞ ﻋﻄﻴﺔ ﺍﻷﻭﻝ ﻭﻷﻧﻬﺎ ﻟﻤﺎ ﺩﺧﻠﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺑﺸﻴﺮ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺗﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊﻣﺪﻟﻮﻟﻪ ﻟﻘﻮﻟﻪ” :ﻓﺎﺭﺩﺩﻩ”ﻭﻗﻮﻟﻪ” :ﻓﺄﺭﺟﻌﻪ”ﻭﻷﻧﻬﺎﻟﻤﺎ ﺳﺎﻭﺕ ﺍﻷﺏ ﻓﻲ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﺗﻔﻀﻴﻞ ﺑﻌﺾ ﻭﻟﺪﻫﺎﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺗﺴﺎﻭﻳﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻤﻜﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﻓﻴﻤﺎ ﻓﻀﻠﻪﺑﻪ,ﺗﺨﻠﻴﺼﺎ ﻟﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻹﺛﻢ ﻭﺇﺯﺍﻟﺔ ﻟﻠﺘﻔﻀﻴﻞ ﺍﻟﻤﺤﺮﻡﻛﺎﻷﺏ ﻭﺍﻟﻤﻨﺼﻮﺹ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ.

Pandangan Ulama Asy-Syafi’iyyah berkaitan hal di atas Referensi Bughiyatul Musytarsyidin Hal 177 :

(مسألة: ب): لا تجب التسوية في عطية الأولاد، سواء كانت هبة أو صدقة أو هدية أو وقفاً أو تبرعاً آخر، نعم يسن العدل كما يسن في عطية الأصول، بل يكره التفضيل، وقال جمع: يحرم سواء الذكر وغيره ولو في الأحفاد مع وجود الأولاد إلا لتفاوت حاجة أو فضل فلا كراهة، فإن كان ذلك وصية فلا بد من إجازة بقيتهم

Tidak wajib menyama-ratakan pemberian kepada anak baik pemberian itu berupa hibah, shodaqoh, hadiah, wakoq, atau sifatnya tabarru’, namun disunahkan berlaku adil seperti disunahkan dalam memberi kepada ushuul (bapak, kekek dst / ibu, nenek dst) . Bahkan makruh hukumnya membedakan pemberian di antara anak. Segolongan ulama berkata: Haram membedakan pemberian, baik kepada laki-laki atau perempuan walaupun kepada cucu-cucu kecuali ada perbedaan kebutuhan diantara mereka, atau perbedaan dalam keutamaan, maka tidak makruh. Jika pemberian itu melalui akad washiyat, maka harus menunggu persetujuan ahli waris yang lain (jika lebih besar dari 1/3 harta).

Bughiyatul Mustarsyidin, Hal 178:

[فائدة]: شروط رجوع الوالد في هبته لولده وإن سفل أن لا يتعلق به حق لازم، وأن لا يكون الفرع قناً فإنه يكون لسيده، وأن يكون الموهوب عيناً لا ديناً، وأن لا يزول ملك الفرع وإن عاد إليه اهـ ش ق. وخرج بالهبة النذر فلا رجوع فيه على المعتمد.

(Faidatun) Syarat diperbolehkannya mengambil kembali atau membatalkan pemberian seorang bapak kepada anaknya jika:

Tidak berkaitan dengan hak lazim/tetap

Anak (yang menerima pemberian) bukan seorang hamba sahaya, karena harta hamba sahaya adalah milik sayidnya.

Pemberian itu berupa ‘Ain (seperti lahan atau tempat dll) bukan berupa hutang.

Pemberian itu belum pernah lepas dari tangan si anak, walaupun sempat lepas namun kembali lagi (si anak menerima pemberian dari bapak, kemudian pemberian itu digadaikan contohnya, kemudian dilunasi sehingga pemberian itu kembali ke tangan si anak). Dan berbeda Jika pemberian itu adalah hasil dari Nadzar, maka menurut kaol mu’tamad tidak boleh dibatalkan ? diambil kembali.

Melihat keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jawaban dari pertanyaan kedua : tidak disyaratkan bagi bapak atas izin si anak ketika membatalkan atau mengambil kembali pemberiannya.

Wallohu a’lam. Semoga bermanfaat.

[Ical Rizaldysantrialit].

Sumber Baca Disini
Silahkan baca juga artikel terkait.

Pos terkait