Tafsir Surat An-Naba` Ayat 40: Andai Dulu Aku Adalah Tanah Sehingga Tidak Pernah Mendaptkan Azab

Andai Dulu Aku Adalah Tanah Sehingga Tidak Pernah Mendaptkan Azab

Pertanyaan: Tafsir Surat An-Naba` Ayat 40: Andai Dulu Aku Adalah Tanah Sehingga Tidak Pernah Mendaptkan Azab

Assalamu’alaikum Wr. Wb. ustadz/ustadzah aku mau tanya: Bagaimanakah tafsir Surat An naba’: 40? Apakah bisa disebut “tanah sebagai makhluk yang tidak pernah mendapat azab”? Kemudian apakah ada riwayat jika tanah sebagai penghuni surga atau neraka? [M Syukur].

 

Bacaan Lainnya

Jawaban atas pertanyaan Tafsir Surat An-Naba` Ayat 40: Andai Dulu Aku Adalah Tanah Sehingga Tidak Pernah Mendaptkan Azab

Wa’alaikum salam Wr. Wb. Surat an Naba’ ayat 40:

 وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

Dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

 

– Tafsir Ibnu Katsir (8/311):

 ( ويقول الكافر ياليتني كنت ترابا ) أي : يود الكافر يومئذ أنه كان في الدار الدنيا ترابا ، ولم يكن خلق ، ولا خرج إلى الوجود . وذلك حين عاين عذاب الله ، ونظر إلى أعماله الفاسدة قد سطرت عليه بأيدي الملائكة السفرة الكرام البررة ، وقيل : إنما يود ذلك حين يحكم الله بين الحيوانات التي كانت في الدنيا ، فيفصل بينها بحكمه العدل الذي لا يجور ، حتى إنه ليقتص للشاة الجماء من القرناء . فإذا فرغ من الحكم بينها قال لها : كوني ترابا ، فتصير ترابا . فعند ذلك يقول الكافر : ( ياليتني كنت ترابا ) أي : كنت حيوانا فأرجع إلى التراب . وقد ورد معنى هذا في حديث الصور المشهور وورد فيه آثار عن أبي هريرة ، وعبد الله بن عمرو ، وغيرهما .

(Dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.)

Maksudnya adalah orang kafir pada hari ini berharap bahwa ketika di dunia dia berupa tanah, tidak menjadi mahkluk dan tidak menjadi ada. Hal ini dikatakn oleh orang kafir ketika telah nyata adzab Allah dan melihat amalan-amalannya yang fasid telah ditulis oleh para malaikat .

Waqila, orang kafir hanya ingin menjadi tanah ketika Allah memberikan keputusan hukum antara para hewan ketika di dunia, dengan hukuman yang adil. Setelah selesai dari memberikan keputusan hukuman diantara mereka maka Allah berfirman: “jadilah tanah” maka hewan tersebut menjadi tanah. Maka ketika itu orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. Maksudnya aku menjadi hewan dan kembali menjadi tanah. Telah datang makna ini dalam hadits shur yang masyhur, dan atsar dari Abu Hurairoh, Abdulloh Bin Umar dan selain keduanya.

 

– Tafsir Al-Baghowiy:

ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ : ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﺪﺕ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﺪ ﺍﻷﺩﻳﻢ ، ﻭﺣﺸﺮﺕ ﺍﻟﺪﻭﺍﺏ ﻭﺍﻟﺒﻬﺎﺋﻢ ﻭﺍﻟﻮﺣﻮﺵ ، ﺛﻢ ﻳﺠﻌﻞ ﺍﻟﻘﺼﺎﺹ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺒﻬﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﺘﺺ للشاﺓ ﺍﻟﺠﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺓ ﺍﻟﻘﺮﻧﺎﺀ ﺗﻨﻄﺤﻬﺎ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺼﺎﺹ ﻗﻴﻞ ﻟﻬﺎ : ﻛﻮﻧﻲ ﺗﺮﺍﺑﺎ ، ﻓﻌﻨﺪ ﺫﻟﻚ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ : ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻛﻨﺖ ﺗﺮﺍﺑﺎ ﻭﻣﺜﻠﻪ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ .

Abdullah bin Amr berkata: Ketika terjadi hari kiamat, bumi memanjang bentangan permukaan tanahnya, hewan-hewan, binatang ternak dan binatang liar dikumpulkan kemudian qishosh diberlakukan antara mereka, sehingga terjadi qishosh untuk hewan tidak bertanduk menanduk hewan yang bertanduk, ketika qishosh telah selesai dikatakan pada hewan-hewan tersebut: “jadilah kalian tanah.”

maka ketika itu orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”

 ﻭﻗﺎﻝ ﻣﻘﺎﺗﻞ : ﻳﺠﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻮﺣﻮﺵ ﻭﺍﻟﻬﻮﺍﻡ ﻭﺍﻟﻄﻴﺮ ﻓﻴﻘﻀﻲ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﺘﺺ ﻟﻠﺠﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﻧﺎﺀ ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻬﻢ : ﺃﻧﺎ خلقتكم ﻭﺳﺨﺮﺗﻜﻢ ﻟﺒﻨﻲ ﺁﺩﻡ ﻭﻛﻨﺘﻢ ﻣﻄﻴﻌﻴﻦ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﺃﻳﺎﻡ ﺣﻴﺎﺗﻜﻢ ، ﻓﺎﺭﺟﻌﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺬﻱ [ ص : 319 ] ﻛﻨﺘﻢ ، ﻛﻮﻧﻮﺍ ﺗﺮﺍﺑﺎ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻟﺘﻔﺖ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﺇﻟﻰ ﺷﻲﺀ ﺻﺎﺭ ﺗﺮﺍﺑﺎ ، ﻳﺘﻤﻨﻰ ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻛﻨﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻲ ﺻﻮﺭﺓ خنزﻳﺮ ، ﻭﻛﻨﺖ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺗﺮﺍﺑﺎ .

Muqotil berkata: Allah mengumpulkan hewan liar, binatang ternak dan burung kemudian diputuskan di antara mereka sehingga terjadi qishosh bagi hewan tidak bertanduk terhadap hewan bertanduk. Kemudian Allah berfirman kepada mereka: “Aku telah menciptakan kalian, dan menundukkan kalian bagi umat manusia, dan kalian patuh pada mereka selama hidup kalian, maka kembalilah kalian menjadi sedia kala, jadilah kalian tanah”.

Ketika orang kafir memandang pada sesuatu yang telah berubah menjadi tanah, orang kafir berharap dan berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu di dunia adalah babi, dan hari ini aku menjadi tanah”.

Wallohu a’lam semoga bermanfaat. [Mujaawib: Ust Mas Hamzah, Ust Maafin Saya].

Sumber tulisan ada disini.

Silahkan baca juga artikel terkait.

Pos terkait