0956. HAL IHWAL TENTANG NIAT

PERTANYAAN :
Assalamu’alaikum, saya punya 2 pertanyaan :
1). apakah lafal niat itu bersamaan atau didahulukan? mengingat kalau shalat kan tidak bisa melafalkan niat jika bersamaan dengan takbiratulihram. dan bagaimana juga dengan wudhu dan mandi junub apakah bersamaan atau sebelum membasuh atau mengucurkan air?
2). mengapa tidak ada lafazh niat untuk ibadah-ibadah lain seperti : bersedekah, menolong orang, dll.
Mohon penjelasannya para asatidz :). [Ulian Febriansyah].
JAWABAN :

Wa’alaikumsalam wr wb. Menurut SYAFI’IYYAH niat harus bersamaan dengan pelaksanaan suatu ibadah sedang menurut HANABILAH niat boleh mendahlukan niat atas pelaksanaan ibadah asalkan dalam jarak waktu yang sedikit
HAL IHWAL TENTANG NIAT

فحقيقتها قصد الشيء مقترناً بفعله ، ومحلها القلب ، وحكمها الوجوب ، ومقصودها تمييز العبادة عن العادة ، كالجلوس… للاعتكاف تارة وللاستراحة أخرى ، أو تمييز رتبها كالفرض عن النفل ، وشرطها إسلام الناوي وتمييزه وعلمه بالمنويّ ، وعدم الإتيان بمنافيها ، وعدم تعليقها كإن شاء الله إلا إن قصد التبرك ، وزمنها أي وقتها أول العبادات إلا الصوم ، وكيفيتها تختلف بحسب الأبواب اهـ ش ق.

• Hakikat niat : menyengaja sesuatu dengan disertai mengerjakannya
• Letak niat : dalam hati
• Hukum niat : Wajib
• Tujuan niat : Untuk membedakan ibadah dan kebiasaan seperti duduk untuk I’tikaf dan duduk untuk istirahat atau untuk membedakan derajat ibadah seperti antara ibadah wajib dan sunah
• Syarat niat : Islamnya pelaku, tamyiz, mengerti yang ia niati, tidak mendatangkan sesuatu yang menafikannya, tidak menggantungkannya seperti dengan perkataan Insya Allah
• Waktu niat : Dipermulaan ibadah kecuali dalam hal puasa
• Cara niat : Berbeda-beda melihat bentuk ibadah yang ia niati

– Bughyah hal.143 :

وقال الشافعية: يجب قرن النية بأول غسل جزء من الوجه، لتقترن بأول الفرض كالصلاة، ويستحب أن ينوي قبل غسل الكفين، لتشمل النية مسنون الطهارة ومفروضها، فيثاب على كل منهما، كما قال الحنفية، ويجوز تقديم النية على الطهارة بزمن يسير، فإن طال الزمن لم يجزئه ذلك. ويستحب استصحاب ذكر النية إلى آخر الطهارة، لتكون أفعاله مقترنة بالنية، وإن استصحب حكمها أجزأه، ومعناه ألا ينوي قطعها.

SYAFI’IYYAH : Wajib menjlankan niat berbarengan dengan saat membasuh bagian dari wajah (dalam wudhu) agar niat bersamaan dengan hal yang pertama kali diwajibkan dalam sebuah ibadah seperti halnya shalat, disunahkan niat saat membasuh kedua tangan (dalam wudhu) agar hal-hal yang disunahkan ikut serta diniati dengan fardhunya bersuci (wudhu) sehingga juga mendapatkan pahala sebagaimana pendapat kalangan Hanafiyyah“Boleh mendahulukan niat dalam jarak waktu yang sedikit (sebelum ia menjalankan kewajiban), bila jaraknya lama maka tidak diperbolehkan.

Disunahkan mengikut sertakan niatnya hingga ia rampung menjalankan bersuci agar yang ia kerjakan selalu berbarengan dengan niat meskipun andaikan ia sekedar menyertakan hukumnya (asalkan tidak berniat memutuskan niat) sudah dianggap cukup).

– Al-Fiqh al-Islaam I/141 :

فصل : ويجوز تقديم النية على الأداء بالزمن اليسير كسائر العبادات

FASAL : Boleh mendahlukan niat atas pelaksanaan ibadah dalam jarak waktu yang sedikit sebagaimana yang berlaku dalam ibadah-ibadah lainnya.

– Al-Mughni II/502 

TUJUAN PELAFADZAN (PENGUCAPAN) NIAT
Niat adanya dalam hati keberadaan lisan sekedar menolongnya agar ada dalam hati.
أما التلفظ بالمنوي فسنة ليساعد اللسان القلب
Sedangkan mengucapkan yang diniatkan adalah sunat agar dapat menolong hati.
Referensi :
Nihaayah az-Zain I/18, 56, Nihayah al-Muhtaaj I/457, Mughni al-Muhtaaj I/150, Fath al-Wahhab I/69, Fath al-Muin I/130, Hawaasyi as-Syarwani I/240, Hasyiyah al-Jamal ala al-Minhan II/181, Hasyiyah al-Bujairomi I/ 423, IV/155, Ianah at-Thoolibiin I/152, II/249, Dan kitab-kitab Fiqh madzhab syafi’i lainnya. 
Wallaahu A’lam Bis Showaab. [Masaji Antoro]

Pos terkait