1431. JIKA HARI JUMAT BERTEPATAN DENGAN HARI RAYA

  • Whatsapp
PERTANYAAN :
Assalamu ‘alaikum, Memperbaharui status pertanyaan titipan : “apakah benar kala hari raya jatuh dihari jum’at, maka kita boleh tidak melakukan sholat jum’at ? kalau benar, bolehkan fatwa itu kita pakai ? Wassalamu ‘alaikum. [Abdurrahman As-syafi’i].
JAWABAN :
Wa’alaikumsalam Wr Wb. Bagi orang yang tergolong ahl al-Balad (penduduk setempat) menurut kesepakan ulama tetap diwajibkan menjalankan shalat jumat, sedang orang-orang yang tergolong ahl al-Qura dan al-Bawaadi (penduduk pedalaman) ada pendapat ulama yang menyatakan gugur kewajiban shalat jumahnya dengan syarat apabila setelah ia mengerjakan shalat Ied dan pulang ketempat tinggalnya masing-masing sebelum tergelincirnya matahari dan bila ia kembali kemasjid lagi untuk menunaikan shalat jumat mereka sudah tidak dapat mengiluti pelaksanaan shalat jumat.
(مسألة) : فيما إذا وافق يوم الجمعة يوم العيد ففي الجمعة أربعة مذاهب ، فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادي العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم ، ومذهب أحمد لا تلزم أهل البلد ولا أهل القرى فيصلون ظهراً ، ومذهب عطاء لا تلزم الجمعة ولا الظهر فيصلون العصر ، ومذهب أبي حنيفة تلزم الكل مطلقاً ، اهـ من الميزان الشعراني.
[ MASALAH ] Dalam pembahasan “SAAT HARI JUMAT BERTEPATAN DENGAN HARI RAYA” Maka dalam kewajiban pelaksaan menunaikan shalat jumat terdapat empat madzhab :
§Madzhab kami (syafi’iyyah) bila penduduk desa dan pedalaman menjalankan shalat Ied dan keluar dari desa sebelum tergelincirnya matahari maka tidak wajib bagi penduduk pedalaman mengerjakan shalat jumat sedang bagi penduduk desa masih diwajibkan mengerjakannya.
§Madzhab Imam Ahmad, bagi penduduk desa dan pedalaman tidak berkewajiban menjalankan shalat jumat, kerjakanlah shalat dhuhur.
§Madzhab Imam ‘Atha’ tidak diwajibkan bagi mereka menjalankan shalat Jumat juga shalat dhuhur, kerjakanlah shalat Ashar.
§Madzhab Abu Hanifah, semua shalat masih diwajibkan bagi mereka. (al-Miizaan as-Sya’rooni). [ Bughyah al-Mustarsyidiin I/187 ].
فرعإذا وافق يوم العيد يوم جمعة وحضر أهل القرى الذين يبلغهم لصلاة العيد وعلموا أنهم لو انصرفوا لفاتتهم الجمعة فلهم أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة في هذا اليوم على الصحيح المنصوص في القديم والجديد. وعلى الشاذ عليهم الصبر للجمعة.
[ SUB BAHASAN ] Bila hari raya bertepatan dengan hari jumah dan penduduk desa yakni mereka-mereka yang mendengan seruan shalat Ied dan mereka yakin andaikan mereka membubarkan diri (meninggalkan masjid dan pulang kerumah masing-masing) mereka akan ketinggalan shalat maka bagi mereka diperkenankan membubarkan diri dan meninggalkan shalat jumah dihari seperti ini menurut pendapat yang shahih, sedang menurut pendapat yang SYADZ (ganjil) bagi mereka wajib menunggu pelaksanaan shalat jumat. [ Raudhah at-Thoolibiin I/173 ].
NB :Dengan demikian, bila menilik letak geografis tempat tinggal jamaah suatu masjid pada zaman sekarang ini yang tidak akan tergambarkan saat mereka pulang kerumah setelah shalat ied kemudian kembali kemasjid guna menunaikan shalat jumat mereka akan ketinggalan menunaikan shalat jumah, secara pribadi saya lebih cenderung masih diwajibkannya shalat jumah meskipun bertepatan dengan shalat ied.
Kembali kepada sunah RasulNya ? ada sebuah hadits dari Zaid bin Arqam :
لِخَبَرِ زَيْدِ بن أَرْقَمَ قال اجْتَمَعَ عِيدَانِ على عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم في يَوْمٍ وَاحِدٍ فَصَلَّى الْعِيدَ في أَوَّلِ النَّهَارِ وقال يا أَيُّهَا الناس إنَّ هذا يَوْمٌ اجْتَمَعَ لَكُمْ فيه عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَشْهَدَ مَعَنَا الْجُمُعَةَ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلْيَفْعَلْ رَوَاهُ أبو دَاوُد وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَ إسْنَادَه
Hadits dari Zaid bin Arqom berkata : telah berkumpul dua Ied (jumat dan hari raya) pada masa Rosulullah saw pada satu hari itu, maka Beliau shalat ied di awal siang, Beluau bersabda : “para hadirin, pada hari ini bertemu dua hari raya (jum’at dan ied) barang siapa suka menghadiri jum’at bersama kami maka hadirilah, dan barang siapa yang suka memilih pulang (tidak shalat jumat) maka pulanglah. Diriwayatkan oleh abu dawud dan hakim dan menshahihkan isnadnya. Wallohu a’lam. [Masaji Antoro, Ibnu Toha].
Link Diskusi :

www.fb.com/groups/piss.ktb/389706581052156/

Pos terkait