1660. HUKUM MENJAWAB BACAAN IMAM KETIKA SHALAT

PERTANYAAN :
Assalamu’alaikum, apa hukum nya menjawab imam yang membaca alaysallohu bi ahkamil haakimiin dengan jawaban balaa wa anaa djalika minasyahidiin.? [Ochid Avverous].
JAWABAN :
Wa’alaikum salam wr.wb
اذا وجدت كل اية دعا # نبينا فسن ذاك خاشعا
Apabila engkau membaca ayat, dimana Nabi kita telah berdoa di dalamnya, maka disunahkan lah kita untuk melakukannya dengan khusu’
متى انتهيت كل سورة اتت # فادع لما من الحديث قد ثبت
Ketika engkau selesai pada akhir surat-surat tertentu, maka berdoalah sesuai hadis yang telah ada
في الملك و القيامة التين اعلمن # و المرسلات هل اتاك فاختمن
Di antaranya adalah diahir surat al mulk, alqiyamah, attin, al-mursalat, hal ataka (al ghosiyah).
– Busyrol karim juz I hal 77 :
ويسن سؤال الرحمة بنحو: “اللهم إغفر أو إرحم” عند قراءة أية رحمة, والإستعاذة بنحو: “اللم أعذنى من النا” عند قراءة آية عذاب, والتسبيح آية التسبيح, وعند آخر والتين, وآخر القيامة أن يقول:”بلى وإنا على ذلك من الشاهدين”, وعند آخر المرسلات :”آمنا بالله”, يفعل ذلك كله من الإمام والمنفرد لقراءة نفسه, والمأموم لقراءة إمامه أو نفسه حيث لم يسمع قراءة إمامه وغير المصلى لكل قراءة سمعها.
Dan disunahkan meminta rahmat dengan berucap semisal : “Ya Allah ampunilah, Ya Allah rahmatilah” ketika membaca ayat rahmat. Dan disunahkan meminta perlindungan dengan berucap semisal : “Ya Allah, selamatkanlah aku dari api neraka” ketika membaca ayat adzab, bertasbih ketika membaca ayat tasbih, dan ketika membaca akhir dari surat at-tin dan akhir surat al-Qiyamah agar membaca: (“Ya, dan kami atas hal itu termasuk para saksi,) dan pada akhir surat al-Mursalat agar membaca : (“Kami beriman kepada Allah”.)disunahkan agar melakukan hal tersebutt masing-masing imam dan orang yang shalat sendiri karena mendengar bacaannya agar melakukan ssemua yang tersebut tadi, dan seorang makmum karena bacaan imamnya atau karena mendengar bacaannya sendiri apabila dia tidak mendengar bacaan imam, dan bagi orang yang tidak shalat apabila mendengar setiap bacaan yang ia dengar.
– Minhajul qowim hal 40 :
فَتَنْقَطِعُ الْفَاتِحَةُ باِلسُّكُوْتِ الطَّوِيْلِ إِنْ تَعَمَّدَهُ أو إِنْ طَان يَسِيْرًا وَقَصَدَ بِهِ قَطْعَ الْقِرَأَةِ وَبِالذِّكْرِ إِلاَّ إِنْ كَانَ نَاسِيًا وَإِلاَّ إِذَا سُنَّ فىِ الصَّلاَةِ كَالتَّأْمِيْنِ وَالتَّعَوُّذِ وَسُؤَالِ الرَّحْمَةِ وسجود التلاوة لقراءة إمامه والرد عليه.
(والتعوذ) من العذاب وسؤال الرحمة عند قراءة آياتهما منه أو من إمامه, وقوله بلى عند سماعه “أليس الله بأحكم الحاكمين”.
Maka bacaan fatihah itu terputus dengan diam yang lama apabila dia melakukannya dengan sengaja atau sebentar akan tetapi dia berniat memutus bacaan, dan juga terputus dengan dzikir kecuali apabila dia lupa. Apabila tidak, maka tidak apa-apa selagi dzikir tersebut termasuk dzikir yang disunahkan di dalam shalat seperti membaca amin, ta’awwud, meminta rahmat, sujud tilawah karena bacaan imam dan menjawabinya.
Ucapan pengarang (والتعوذ) : artinya berlindung dari adzab (وسؤال الرحمة ) meminta rahmat, tatkala membaca ayat-ayat adzab atau ayat rahmat dari bacaannya sendiri atau bacaan imamnya. Adapun ucapannya (بلى) itu tatkala mendengar ayat :
أليس الله بأحكم الحاكمين.
Wallohu a’lam. [Abdurrahman As-syafi’i, Mbah Jenggot II].
Link Asal :

www.fb.com/groups/piss.ktb/382094141813400/

Pos terkait