2309. JIKA IMAM SHOLAT DENGAN DUDUK MAKMUM TIDAK BOLEH IKUT DUDUK

PERTANYAAN :

Assalamuaalaikum, mau tanya ustadz, kemarin saya melihat di kitab shahih muslim ada hadist yang menerangkan bahwa ketika rasulullah sholat duduk, beliau juga memerintahkan sahabat abu bakar untuk sholat duduk juga. Pertanyaan saya, apakah jika imam sholat duduk, maka makmum juga harus sholat duduk juga ? atau apakah hadist di atas masih ada penjabaran dan tafshil yang saya tidak tahu ? matur nuhun. [Senja Kalanienk].

Bacaan Lainnya

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam. Mungkin hadits yang dimaksud adalah : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami al-Laits dari Abu az-Zubair dari Jabir dia berkata, Rasulullah s.a.w.mengaduh, lalu kita shalat di belakangnya, sedangkan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada manusia. Lalu beliau menoleh kepada kami, maka beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri. Lalu beliau memberi isyarat kepada kami untuk duduk, lalu kami shalat dengan mengikuti shalatnya dalam keadaan duduk. Ketika beliau mengucapkan salam, maka beliau bersabda, kalian baru saja hampir melakukan perbuatan kaum Persia dan Romawi, mereka berdiri di hadapan raja-raja mereka, sedangkan mereka (raja) dalam keadaan duduk, maka janganlah kalian melakukannya. Berimamlah dengan imam kalian. Jika dia shalat dalam keadaan berdiri, maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri, dan jika dia shalat dalam keadaan duduk, maka kalian shalatlah dalam keadaan duduk. (HR Muslim).

حدّثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ : حَدَّثَنَا لَيْثٌ . ح وَحَدَّثَنَا مُحمَّدُ بْنُ رُمْحٍ : أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ: اشْتَكَى رَسُولُ اللّهِ . فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ، وَهُوَ قَاعِدٌ . وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ. فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَاماً، فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا، فَصَلَّيْنَا بِصَلاَتِهِ قُعُوداً. فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ: «إِنْ كِدْتُمْ آنِفاً لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ، يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلاَ تَفْعَلُوا، ائْتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ: إِنْ صَلَّى قَائماً فَصَلُّوا قِيَاماً. وَإِنْ صَلَّى قَاعِداً فَصَلُّوا قُعُوداً

Hadits ini secara hukum terjelaskan oleh hadits :  Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari mengendarai kudanya lalu terjatuh dan terhempas pada bagian lambungnya yang kanan. Karena sebab itu Beliau pernah melaksanakan shalat sambil duduk di antara shalat-shalatnya. Maka kamipun shalat di belakang Beliau dengan duduk. Ketika selesai Beliau bersabda: Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti, jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri. Jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengangkat kepalanya maka angkatlah kepala kalian. Dan jika ia mengucapkan sami’allahu liman hamidah (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah; rabbanaa wa lakal hamdu (Ya Rabb kami, milik-Mu lah segala pujian). Dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semuanya dengan duduk. Abu Abdullah berkata, Al Humaidi ketika menerangkan sabda Nabi SAW “Dan bila dia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk” dia berkata, kejadian ini adalah saat sakitnya Nabi SAW di waktu yang lampau. Kemudian setelah itu Nabi SAW shalat dengan duduk sedangkan orang-orang shalat di belakangnya dengan berdiri, dan beliau tidak memerintahkan mereka agar shalat sambil duduk (mengikuti beliau). Dan sesungguhnya yang dijadikan ketentuan adalah berdasarkan apa yang paling akhir dan terakhir dari perbuatan Nabi SAW. (HR Bukhari).

حدّثنا عبدُ اللهِ بنُ يوسفَ قال: أخبرَنا مالكٌ عنِ ابنِ شهابٍ عن أنسِ بنِ مالكٍ : «أَنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلّم ركبَ فرَساً، فصُرِعَ عنهُ، فجُحِشَ شِقُّهُ الأيمنُ، فصلَّى صلاةً منَ الصلواتِ وهو قاعدٌ ، فصلَّينا وراءهُ قُعوداً، فلمَّا انصرَف قال: «إنما جُعِلَ الإمامُ ليُؤْتمَّ به، فإذا صلَّى قائماً فصلُّوا قِياماً، فإذا رَكعَ فاركعوا، وإِذا رفعَ فارفَعوا، وإِذا قال: سَمِعَ اللهُ لمن حمدَه فقولوا: ربَّنا وَلكَ الحمدُ. وإِذا صلَّى قائماً فصلُّوا قِياماً،وإذا صلَّى جالساً فصلُّوا جُلوساً أجمعون». قال: أبو عبدِ اللهِ: قال الحُميديُّ: قوله:«إِذا صلَّى جالساً فصلُّوا جلوساً» هو في مرضهِ القديمِ، ثمَّ صلَّى بعدَ ذلك النبيُّ صلى الله عليه وسلّم جالساً والناسُ خَلفَهُ قياماً، لم يأْمُرْهم بالقعودِ، وإِنما يُؤَخذُ بالآخرِ فالآخرِ من فعلِ النبيِّ صلى الله عليه وسلّم.

Pertanyaan saya, apakah jika imam sholat dengan duduk, maka makmum juga harus sholat duduk juga ? Bila imamnya duduk maka ma’mumnya tidak boleh ikut duduk.

.وصح إقتداء سليم بسلس لبول أو المذي أو الضراط وقائم بقاعد أى صح إقتداء قائم بقاعد لخبر البخاري عن عائشة رضي الله عنها أنه صلى الله عليه وسلم صلى في مرض موته قاعدا وأبو بكر والناس قياما. إعانة الطالبين ٢/٤٦
وذهب الشافعي إلى أنها تصح صلاة القائم خلف القاعد ولا يتابعه في القعود. سبل السلام ٢/٢٣

Dalam kitab Almajmu’ dijelaskan :

المجموع شرح المهذب (4/ 265) (فرع) في مذاهب العلماء: قد ذكرنا أن مذهبنا جواز صلاة القائم خلف القاعد العاجز وإنه لا تجوز صلاتهم وراءه قعودا وبهذا قال الثوري وأبو حنيفة وأبو ثور والحميدي وبعض المالكية وقال الاوزاعي واحمد واسحق وابن المنذر تجوز صلاتهم وراءه قعودا ولا تجوز قياما وقال مالك في رواية وبعض أصحابه تصح الصلاة وراءه قاعدا مطلقا

Cabang : dalam beberapa madzhabnya ulama’ aku (imam nawawi) telah menyebutkan bahwa madzhab kami (syafiiyyah) memperbolehkan sholatnya orang yang berdiri (makmum) dibelakang /ikut bermakmum pada imam yang duduk yang tidak mampu berdiri dan tidak boleh bagi makmum ikut duduk pada sholatnya dan dengan pendapat ini telah berkomentar attsauri, abu hanifah,abu tsaur,alhumaidi dan sebagian ulama’ dari malikiyyah, dan al-adzro’i,ishaq, dan ibnu mundir berpendapat boleh bagi makmum untuk duduk pada sholatnya yang ikut pada imam yang sholatnya duduk dan tidak boleh bagi mereka (makmum) untuk melakukan sholat berdiri, dan imam malik berkomentar dari riwayat sebagian ashabnya bahwa sah sholat bermakmum pada imam yang sholatnya duduk dengan mutlaq. Wallohu a’lam. [Dewan Masjid Assalaam, Ghufron Bkl, Mbah Godek].

LINK DISKUSI:

www.fb.com/groups/piss.ktb/571989319490547/

Pos terkait