Hukum Al-Nasikh Wa Al-Mansukh

Pertanyaan: Bagaimana Hukum Al-Nasikh Wa Al-Mansukh?

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Mhon pencerahanya dari pertanyaan ini. Da istilah nasiikh mansukh. Apakah Allah menyesal degan hukum pertma?

Bacaan Lainnya

[Ceng Ihsan Munandar]

Jawaban atas pertanyaan Hukum Al-Nasikh Wa Al-Mansukh

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Pengertian Nasikh dan Mansukh

Nasikh-mansukh berasal dari kata nasakh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Secara istilah yang berarti proses penghapusan atau pembatalan hukum syar’i yang telah ada untuk kemudian digantikan dengan hukum syar’i yang datang kemudian.

Perbedaan Antara Nasakh, Takhshis Dan Bada’

Terdapat perbedaan diametral antara Ibnu Katsir, al Maghrabidan Abu Muslim al Ashfahanidalam memandang persoalan nasakh. Ibnu Katsir dan al Maghrabi menetapkan adanya pembatalan hukum dalam Al Quran. Al Ashfahani berpendapat bahwa tidak ada nasakh dalam Al Quran. Kalaupun di dalam Al Quran terdapat cakupan hukum yang bersifat umum, untuk mengklasifikasinya dapat dilakukan proses pengkhushusan (takhshis). Dengan demikian takhshis, menurutnya dapat diartikan sebagai “mengeluarkan sebagian satuan (afrad) dari satuan-satuan yang tercakup dalam lafad ‘amm”.

Nasakh:

Satuan yang terdapat dalam nasakh bukan merupakan bagian satuan yang terdapat dalam mansukh.

Nasakh adalah menghapuskan hukum dari seluruh satuan yang tercakup dalam dalil mansukh.

Nasakh hanya terjadi dengan dalil yang datang kemudian.

Nasakh adanya menghapuskan hubungan Mansukh dalam rentang waktu yang tidak terbatas.

Setelah terjadi nasakh, seluruh satuan yang terdapat dalam nasikh tidak terikat dengan hukum yang terdapat dalam mansukh.

Takhshis:

Satuan yang terdapat dalam takhshis merupakan sebagian dari satuan yang terdapat dalam lafadz ‘aam.

Takhshis adalah merupakan hukum dari sebagian satuan yang tercakup dalam dalil ‘aam.

Takhshis dapat terjadi baik dengan dalil yang kemudian maupun menyertai dan mendahuluinya.

Takhshis tidak menghapuskan hukum ‘aam sama sekali. Hukum ‘aam tetap berlaku meskipun sudah dikhushuskan.

Setelah terjadi Takhshis, sisa satuan yang terdapat pada ‘aam tetap terikat oleh dalil áam.

Hikmah Adanya Nasakh:

Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya Al-Qur’an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci Al-Qur’an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama.

Tujuan Nasakh-Mansukh

Tujuan Nasakh-Mansukh yaitu untuk membersihkan jiwa dan memelihara keselamatan masyarakat serta meningkatkan dengan ikatan kerjasama dan persaudaraan.

Syarat-Syarat dalam Naskh:

Hukum yang Mansukh adalah hukum syara’.

Dalil penghapusan hukum tersebut adalah khithab syar’i yang datang lebih kemudian dari khithab yang hukumnya dimansukh.

Khithab yang dihapuskan atau diangkat hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu tertentu.

Hal-Hal yang Mengalami Naskh Naskh hanya terjadi pada perintah dan larangan, baik yang diungkapkan dengan tegas dan jelas maupun yang diungkapkan dengan kalimat berita (khabar) yang bermakna amr (perintah) atau nahy (larangan). Naskh tidak terjadi dalam berita, khabar, yang jelas-jelas tidak bermakna thalab (seperti perintah atau larangan), atau seperti janji (al-wa’d) dan ancaman (al-wa’id).

Pedoman Mengetahui Naskh dan Mansukh:

Keterangan tegas dari Nabi atau Sahabat.

Ijma’ umat bahwa ayat ini nasikh dan yang itu mansukh.

Mengetahui mana yang terlebih dahulu dan mana yang belakangan berdasarkan sejarah.

Pembagian Nasikh dan Mansukh Nasikh dan Mansukh dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya yaitu:

Nasikh dan Mansukh dilihat Berdasarkan kejelasan dan cakupannya.

Nasikh dan Mansukh dilihat dari segi bacaan dan hukumnya.

Nasikh dan Mansukh dilihat dari sisi otoritas mana yang lebih berhak menghapus sebuah nash.

Nasikh dan Mansukh dilihat Berdasarkan kejelasan dan cakupannya

Naskh sharih Naskh sharih yaitu ayat yang secara jelas menghapus hukum yang terdapat pada ayat yang terdahulu.

Misalnya ayat tentang perang (qital) pada ayat 65 surah Al-Anfal [8] yang mengharuskan satu orang muslim melawan sepuluh kafir: “Hai Nabi, kobarkanlah semanagat orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, pasti mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu kafir , sebab orang-orang kafi adalah kaum yang tidak mengerti.” *Q.S. AlAnfal:65].

Ayat ini menurut jumhur ulama di- naskh oleh ayat yang mengharuskan satu orang mukmin melawan dua orang kafir pada ayat 66 dalam surat yang sama: Artinya: “sekarang Allah telah meringankan kamu dan mengetahui pula bahwa kamu memiliki kelamahan, maka jika diantara kamu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang kafir, dan jika diantara kamu terdapat seribu orang (yang sabar), mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang kafir.”Q.S. Al-anfal: 66].

Naskh dhimmy Naskh dhimmy yaitu jika terdapat dua naskh yang saling bertentangan dan tidak dikompromikan, dan keduanya turun untuk sebuah masalah yang sama, serta kedua-duanya diketahui waktu turunnya, ayat yang datang kemudian menghapus ayat yang terdahulu. Contohnya, ketetapan Allah yang mewajibkan berwasiat bagi orang-orang yang akan mati yang terdapat dalam surat AlBaqarah [2]: 180 Artinya . “diwajibkan atas kamu, apabila diantara seseorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika a meninggalkan harta yang banyak, untuk berwasiat bagi ibu-bapak serta karib-kerabatnya secara ma’ruf.” Ayat ini menurut pendukung teori naskh di-naskh oleh hadis la washiyyah li waris (tidak ada wasiat bagi ahli waris).

Naskh Kully Naskh Kully, yaitu menghapus hukum yang sebelumnya secara keseluruhan. Contohnya, ketentuan ‘iddah empat bulan sepuluh hari pada surat Al-Baqarah [2] ayat 234 di-naskh oleh ketentuan ‘iddah satu tahun pada ayat 240 dalam surat yang sama.

Naskh juz’iy Naskh juz’iy, yaitu menghapus hukum umum yang berlaku bagi semua individu dengan hukum yang hanya berlaku bagi sebagian individu, atau menghapus hukum yang bersifat mutlaq dan muqayyad. Contohnya, hukum dera 80 kali bagi orang yang menuduh seorang wanita tanpa adanya saksi pada surat An-Nur [24] ayat 4, dihapus oleh ketentuan li’an, yaitu bersumpah empat kali dengan nama Allah, jika si penuduh suami yang tertuduh, pada ayat 6 dalam surat yang sama.

Nasikh dan Mansukh dilihat dari segi bacaan dan hukumnya

Penghapusan terhadap hukum dan bacaan (tilawah) secara bersamaan

Penghapusan terhadap hukumnya saja, sedangkan bacaannya tetap ada

Penghapusan terhadap bacaanya saja

Penghapusan terhadap hukum dan bacaan (tilawah) secara bersamaan Ayat-ayat yang terbilang kategori ini tidak dibenarkan dibaca dan tidak benar diamalkan. Misalnya sebuah riwayat Al-Bukhari dan Muslim, yaitu hadis Aisyah r.a. Artinya: “dahulu termasuk yang diturunkan (ayat Al-Quraan) adalah sepuluh radab’at (isapan menyusu) yang diketahui, di naskh oleh lima (isapan menyusu) yang diketahui. Setelah rasulullah saw wafat, hukum yang terakhir tetap dibaca sebagi bagian Al-Quran.”

Penghapusan terhadap hukumnya saja, sedangkan bacaannya tetap ada Contohnya adalah ayat tentang mendahulukan sedekah (Q.S Al-Mujadilah: 58: 12). Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu.Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Mujadilah: 12). Ayat ini di-naskh oleh surat yang sama ayat 13: Artinya: “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul. Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Penghapusan terhadap bacaanya saja, sedangkan hukumnya tetap berlaku Contoh kategori ini biasanya diambil dari ayat rajam. Mula-mula ayat raja ini terbilang ayat AlQuran . ayat yang dinyatakan mansukh bacaanya, sementara hukumnya tetap berlaku itu adalah: Artinya: “jika seorang pria tua dan wanita tua berzinah, maka rajamlah keduanya”.

Nasikh dan Mansukh dilihat dari sisi otoritas mana yang lebih berhak menghapus sebuah nash

Naskh Al-Qur’an dengan Al- Qur’an

Naskh Qur’an dengan Sunah

Naskh Sunah dengan Qur’an

Naskh Sunah dengan Sunah

Macam-Macam Nasikh

Nasakh tanpa badal

Nasakh dengan badal yang lebih ringan

Nasakh dengan badal yang sepadan

Nasakh dengan badal yang lebih berat

Nasakh tanpa badal

Misalnya penghapusan keharusan bersedekah sebelum menghadap Rasulullah sebagaimana diperintahkan dalam firman Allah: “hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menghadap lalu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu” (Al-Mujadilah: 12). Ketentuan ini dinasakh dengen firman-Nya: “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengen Rasul? Maka jika kamu tidak memperbuatnya dan Allah telah mmberi taubat kepadamu- maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat….”

Nasakh Dengan Badal Yang Lebih Ringan

Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu…” (Al-Baqarah: 187). Ayat ini menasakh ayat: ”Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…” (Al-Baqarah: 183).

Nasakh Dengan Badal Yang Sepadan

Misalnya penghapusan kiblat shalat menghadap ke Baitul Maqdis dengan menghadap ke Ka’bah: “Maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram…” (Al-Baqarah: 144).

Nasakh Dengan Badal Yang Lebih Berat

Seperti penghapusan hukuman penahanan wanita yang berzina), dalam ayat: di rumah (terhadap “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, datangkanlah empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi kesaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri maka biarkanlah mereka’ (An-Nisa’: 15-16) Kedua ayat ini dinasakh oleh ayat perintah untuk mencambuk perawan (yang berzina) dalam surah An-Nur: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera” (An-Nur: 2).

Hikmah Nasakh:

Memelihara kemashlahatan hamba.

Perkembangan tasyri’ menuju tingkat sempurna sesuai dengan perkembangan dakwah dan perkembangan kondisi umat manusia.

Cobaan dan ujian bagi seorang mukallaf apakah mengikutinya atau tidak.

Menhendaki kebaikan dan kemudahan bagi umat.

اءت العقائد السماوية كافه بتقرير عقيدة واحدة هي عقيدة إفراد الله تعالى بالعبودية، وترك عبادة من سواه، فجميع الرسل نادوا في قومهم: {أن اعبدوا الله ما لكم من إله غيره} (المؤمنون:32) إلا أن أحكام الشرائع اختلفت من شريعة لأخرى، قال تعالى: {لكل أمة جعلنا منسكًا هم ناسكوه} (الحج:67).

وجاءت شريعة الإسلام ناسخة لما سبقها من الشرائع، ومهيمنة عليها، واقتضت حكمة الله سبحانه أن يشرع أحكامًا لحكمة يعلمها، ثم ينسخها لحكمة أيضًا تستدعي ذلك النسخ، إلى أن استقرت أحكام الشريعة أخيراً، وأتم الله دينه، كما أخبر تعالى بقوله: {اليوم أكملت لكم دينكم} (المائدة:3).

وقد بحث العلماء الناسخ والمنسوخ ضمن أبحاث علوم القرآن الكريم، وأفرده بعضهم بالكتابة.

والنسخ هو رفع الحكم الشرعي، بخطاب شرعي. وعلى هذا فلا يكون النسخ بالعقل والاجتهاد.

ومجال النسخ هو الأوامر والنواهي الشرعية فحسب، أما الاعتقادات والأخلاق وأصول العبادات والأخبار الصريحة التي ليس فيها معنى الأمر والنهي، فلا يدخلها النسخ بحال.

ولمعرفة الناسخ والمنسوخ أهمية كبيرة عند أهل العلم، إذ بمعرفته تُعرف الأحكام، ويعرف ما بقي حكمه وما نُسخ.

وقد حدَّد أهل العلم طرقًا يُعرف بها الناسخ والمنسوخ، منها: النقل الصريح عن النبي صلى الله عليه وسلم، أو الصحابي، فمن أمثلة ما نُقل عنه صلى الله عليه وسلم قوله: (كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزروها) رواه مسلم.

ومن أمثلة ما نُقل عن الصحابي، قول أنس رضي الله عنه في قصة أصحاب بئر معونة: ونزل فيهم قرآن قرأناه ثم نُسخ بَعْدُ (بلِّغوا عنا قومنا أن قد لقينا ربنا فرضيَ عنا ورضينا عنه) رواه البخاري.

ومن طُرق النسخ أيضًا إجماع الأمة، ومعرفة تاريخ الحكم المتقدم من المتأخر.

ولا بد من الإشارة إلى أن النسخ لا يثبت بالاجتهاد، ولا بمجرد التعارض الظاهر بين الأدلة، فكل هذه الأمور وما شابهها لا يثبت بها النسخ.

Ayat-ayat yang mengalami naskh

كتاب الناسخ والمنسوخ لقتادة بن دعامة السدوسي

أخبرنا الفقيه المكي أبو الحرم مكي بن عبد الرحمن بن سعيد بن عتيق وجماعة قال أنا الحافظ شيخ الإسلام فخر الأنام جمال الحفاظ أبو طاهر أحمد بن محمد بن أحمد بن محمد بن إبراهيم بن سلفة السلفي الأصبهاني في العشر الآخر من صفر سنة اثنتين وسبعين وخمس مائة بثغر الإسكندربة في منزله قراءة عليه وأنا أسمع قلت وفي طبقة السماع بخط السلفي هذا تسميع صحيح كما كتب وكتب أحمد بن محمد الأصبهاني قال أخبرنا الشيخ أبو الحسين المبارك بن
عبد الجبار بن أحمد الصيرفي ببغداد من أصل سماعه أنا أبو طاهر محمد بن علي بن يوسف بن العلاف أنا أبو بكر أحمد بن جعفر ابن محمد بن سلم الختلي أنا أبو خليفة الفضل بن الحباب الجمحي ثنا محمد بن كثير العبدي ثنا همام بن يحيى 66 ب قال سمعت قتادة يقول في قول الله عز و جل فأينما تولوا فثم وجه الله 10 قال كانوا يصلون نحو بيت المقدس ورسول الله صلى الله عليه و سلم بمكة قبل الهجرة وبعدما هاجر رسول الله صلى الله عليه و سلم صلى نحو بيت المقدس ستة عشر شهرا ثم وجهه الله تعالى نحو الكعبة البيت الحرام

Wallohu a’lam. Semoga bermanfaat.

 

Sumber Baca Disini
Silahkan baca juga artikel terkait.

Pos terkait