Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah

  • Whatsapp
Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah
Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah

Pertanyaan: Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah

Assalamu’alaikum Wr. Wb,

Bacaan Lainnya

Para mu’allim dan para member yang dirahmati Allah. Mohon bimbingannya dan minta pencerahannya. Sering saya jumpai saat sholat berjama’ah, banyak ma’mum yang ketika berdiri dari ruku’ menuju (i’tidal) tidak membaca “Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah” melainkan langsung membaca “Rabbana walakalhamdu dst…” yang ingin saya tanyakan”-Apakah membaca “Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah” tetap sunnah bagi ma’mum?-manakah yang lebih afdhol bagi ma’mum, membaca “SAMI’ALLOHU LIMAN HAMIDAH ? Atau langsung “Rabbana walalhamdu dst…?Mohon jawabannya, sekaligus kalau berkenan dengan ibarotnya. Sebelum nya saya ucapkan syukran katsiir. [Bang Toyyib Aja].

Jawaban atas pertanyaan Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Dalam kitab hawi imam mawardi disebutkan :

وقال أبو حنيفة يختص الإمام بقول سمع الله لمن حمده والمأموم بقول ربنا ولك الحمداستدلالا برواية سمي عن أبي صالح عن أبي هريرة أن رسول الله قال : إذا قال الإمام سمع الله لمن حمده فقولوا اللهم ربنا ولك الحمد

Menurut syafi’iyah, sunnah dua dua nya membaca dua-dua nya, Tapi yang afdholnya sami’allah liman hamidah itu di pisah dengan rabbana walakalhamdu, karena alasan intiqal..

Bacaan Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah menurut kitab-kitab kalangan Syafi’iyyah disunahkan bagi imam, makmum, muballigh ataupun orang yang sedang shalat sendirian.

وَيُسْتَحَبُّ له أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ كما سَبَقَ في تَكْبِيرِ الْإِحْرَامِ حين يَرْفَعُ رَأْسَهُ من الرُّكُوعِ بِأَنْ يَكُونَ ابْتِدَاءُ رَفْعِهِمَا مع ابْتِدَاءِ رَفْعِهِ قَائِلًا في ارْتِفَاعِهِ لِلِاعْتِدَالِ سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ مع خَبَرِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَسَوَاءٌ في ذلك الْإِمَامُ وَغَيْرُهُ وَأَمَّا خَبَرُ إذَا قال سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ فَمَعْنَاهُ قُولُوا ذلك مع ما عَلِمْتُمُوهُ من سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِعِلْمِهِمْ بِقَوْلِهِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي مع قَاعِدَةِ التَّأَسِّي بِهِ مُطْلَقًا

“Dan disunahkan mengangkat kedua tangannya seperti saat takbiratul ihram saat ia mengangkat kepalanya dari rukuk, dalam artian awal mengangkat kedua tangannya berbarengan dengan awal mengangkat kepalanya seraya membaca ‘Hukum Membaca Samiallahu Liman Hamidah’ berdasarkan itba’ Nabi pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat shalatku’.Ketentuan diatas sama bagi seorang imam dan lainnya (makmum, orang yang shalat sendirian).

Sedang hadits ‘bila imam membaca ‘Samiallahu Liman Hamidah’ maka ucapkanlah oleh kalian ‘Rabbana walakalhamdu’ artinya adalah ucapkanlah ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’ bersama dengan ucapan yang telah kalian ketahui yakni ‘Samiallahu Liman Hamidah’ sebab para sahabat telah mengetahui bacaan ‘Samiallahu Liman Hamidah’ dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah taassy secara mutlak”. [ Asna al-Mathoolib I/158 ].

ويجهر الامام بسمع الله لمن حمده، ويسر بربنا لك الحمد ويسر غيره بهما.نعم المبلغ يجهر بما يجهر به الامام ويسر بما يسر به كما قاله في المجموع لانه ناقل

Baca Juga >  Hukum Menambahkan Lafadz "Wabarokaatuh" Dalam Sholat Jenazah

“Dan bagi imam bacalah dengan keras bacaan ‘Samiallahu Liman Hamidah’ dan bacalah dengan pelan bacaan ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’, sedang bagi selain imam (makmum, orang yang shalat sendirian) bacalah pelan keduanya”Hanya saja bagi seorang muballigh (perantara bacaan imam) bacalah keras bacaan yang dikeraskan imam dan bacalah pelan bacaan yang dipelankan oleh imam sebagaimana yang diterangkan dalam kitab al-majmuu’ karena kedudukannya sebagai pemindah bacaan dari imam”. [ Al-Iqnaa I/133 ].

ثم يرفع من ركوعه قائلا سمع الله لمن حمده ويرفع يديه حذم منكبيه فإذا اعتدل قائما قال ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الأرض ما شئت من شيء اماما كان أو مأموما أو منفردا

Kemudian bangkitlah ia dari rukukmya seraya mengucapkan ‘Samiallahu Liman Hamidah’ dan angkatlah kedua tangaanya selaras dengan kedua bahunya, kemudian saat ia telah tegak nerdiri ucapkan ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU MIL-US SAMAAWAATI WA MIL-UL ARDHI WA MIL-U MAA SYI’TA MIN SYAIIN’ baik ia seorang imam, makmum ataupun shalat sendiri”. [ Iqnaa Li al-Mawardy I/39 ].

( و ) يسن لكل مصل ( التكبير للانتقال من ركن إلى آخر….( إلا في الاعتدال ) ولو لثاني قيام الكسوف ( فيقول ) إماما كان أو منفردا أو مأموما مبلغا أو غيره ( سمع الله لمن حمده ) للاتباع أي تقبل الله منه حمده ويحصل أصل السنة بقوله من حمد الله سمعه

“Disunahkan bagi setiap orang yang shalat membaca takbir pada perpindahan gerakan-gerakan yang terdapat pada satu rukun shalat pada gerakan lainnya……Kecuali saat ia i’tidal meskipun pada saat berdiri yang kedua sewaktu shalat gerhana, maka ucapkanlah ‘Samiallahu Liman Hamidah’ baik ia seorang imam, shalat sendirian, makmum, muballigh ataupun lainnya berdasarkan itba’ pada nabi dengan hadits “semoga Allah mendengar pujian darinya”.Dan kesunahan terdapatkan juga dengan membaca “MAN HAMIDAHU ALLAAHU, SAMI’AHUU’’. [ Al-Minhaj al-Qawiim I/201 ]. Wallaahu A’lamu Bis showaab.

وَأَمَّا خَبَرُ إذَا قال سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ فَمَعْنَاهُ قُولُوا ذلك مع ما عَلِمْتُمُوهُ من سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِعِلْمِهِمْ بِقَوْلِهِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي مع قَاعِدَةِ التَّأَسِّي بِهِ مُطْلَقًا

Sedang hadits ‘bila imam membaca ‘Samiallahu Liman Hamidah’ maka ucapkanlah oleh kalian ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’ artinya adalah ucapkanlah ‘RABBANAA LAKA AL-HAMDU’ bersama dengan ucapan yang telah kalian ketahui yakni ‘Samiallahu Liman Hamidah’ sebab para sahabat telah mengetahui bacaan ‘Samiallahu Liman Hamidah’ dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah taassy secara mutlak”.

Fokus : sebab para sahabat telah mengetahui bacaan ‘Samiallahu Liman Hamidah’ dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah taassy secara mutlak.

la’allashshawaab : sebab para sahabat telah mengetahui (bacaan Samiallahu Liman Hamidah) dengan sabda beliau SHALLUU KAMAA RA`ATUMUUNII USHALLII (shalatlah kamu sebagaimana kamu mengetahui aku shalat) serta kaidah TA`ASSII (menjadikan beliau sebagai uswah) secara mutlak . Wallaahu A’lam.

Penulis: Mahmud Al-Martapura

Sumber tulisan ada disini.

Silahkan baca juga artikel terkait.

Pos terkait